Showing posts with label profesi. Show all posts
Showing posts with label profesi. Show all posts

Wednesday, August 29, 2007

Di Tengah Keletihanku, Tamu itu Makin Mendekat

Lebih dari dua pekan ini sungguh sangat melelahkan aku. Tidak hanya melelahkan secara fisik, secara ruhiyah pun aku kecape'an. Kerjaan kantor begitu dahsyatnya mengejar-ngejarku. Adanya reorganisasi direktorat kantorku ini berimbas pada banyak hal yg harus dilakukan oleh kantor2 operasional di daerah2, termasuk di kantorku. Ya, penyesuaian2 itu, dari kantor lama ke kantor baru -plus juga adanya sedikit perubahan di tingkat departemen- membuahkan banyak kerjaan yg kudu diselesaikan segera. Deadline2 yg mepet saling berlomba untuk minta cepet2 dituntaskan. Dan salah satunya akulah, yg ketiban rejeki untuk segera menyelesaikan beberapa urusan itu. Jumlah pegawai yg lebih sedikit dibanding sebelum kantor ini direorganisasi, makin menguatkan kesan sibuknya kondisi kerjaan yg ada.

Di luar itu, yg menambah kelelahanku adalah adanya tugas kepanitiaan di kampung pada tujuhbelasan kemaren. Yg membuatku tambah lelah lagi secara psikis adalah kenyataan yg terjadi bahwa panitia yg ada tidak berjalan dg baik & optimal. Banyak agenda yg dihandle oleh pengurus RT nya langsung. Aku yg memang sebenarnya kurang terbiasa ngurus & ngikutin acara2 kekgituan (tau sendiri, kan...tujuhbelasan itu kek apa?), hanya sekadar ngebantu jadi sekretaris panitianya, jadi makin nggak enak. Sang ketua -boss panitia ini- sering nggak muncul (dg berbage alasannya), panitia yg laen belum terkoordinasi dg baek. Jadilah acara2 tujuhbelasan itu berjalan seadanya. Tetep 'alhamdulillah' sih, acaranya bisa berjalan. Tapi, ya .. itu, bejalannya dg cukup 'sempoyongan'. Memang, akhirnya yg kami prioritaskan adalah acara utk anak2 (buat nggembirain mereka) dan jalan santai. Yg terakhir ini merupakan acara taonan yg selalu diadakan; jalan2 bareng, banyak keluarga satu kampung/RT, terus bagi2 durprez.

Dua kesibukan tadi masih harus disertai dg aktivitas tetepku di luar kerjaan, yg biasanya kulakukan pada waktu malam harinya, setelah pulang kantor. Kegiatan bersama temen2 utk saling berbagi tentang keberislaman kita. Biar kita tidak hanya berislam karena keturunan aja. Biar kita makin bertambah wawasan kita. Biar kita makin tau & makin bisa menyesuaikan diri lebih dekat dg apa yg kita anut. Juga, untuk selanjutnya, biar kita bisa ikut berbagi ato membagikannya -ilmu ato pengalaman itu- ke orang laen. Makanya, kalo dirasa memunkinkan -dalam forum sharing/ta'lim itu- biasanya sekalian kita bikin agenda acara laen yg bisa memberi manfaat ke orang laen yg lebih banyak.

Di tengah2 aktivitas macam itulah -juga tentunya rutinitas dalam keluarga yg tetep berjalan- lelah & cape' itu menghinggapi. Parahnya, rutinitas laen yg mestinya bisa kujaga pula dg baek, malahan terlalaikan. Tilawah quran ku cukup berantakan. Hubunganku dg Yg di Atas, walo tetep dilakukan -& selalu dijaga utk bisa shalat jamaah, misalnya- namun kurang terasa kenikmatannya. 'Tarikan' bumi nampaknya cukup kuat menyedot energiku.
Berhenti sejenak utk menata kembali, kukira pilihan bijak yg mesti dilakukan.

* * *

Kurang lebih dua pekan lagi Tamu Agung itu kan hadir. Aku harus bisa menyambutnya dengan sebaik2nya. Menghormati dan menghargainya. Memuliakannya, sebagaimana tamu lain yg juga sangat disarankan bagi kita utk memuliakannya. “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya”.
Sembari menata kembali, lepas dari jeratan kesibukan yg 'nggak-tekendali-lagi', sekaligus siap2 menyambut Tamu Agung yg sudah makin dekat, hampir sampai di depan pintu rumah. Aku harus menata diri dulu. Agar aku pantas dan sopan dalam menyambut kedatangannya. Agar dia juga betah bertamu kepadaku. Agar dia tidak segan2 memberikan hadiah yg bermanfaat buatku. Agar dia tidak kecewa menghampiriku. Agar dia bisa menceritakan kegembiraan dan kepuasannya selama bertamu ke tempatku, ketika dia saatnya pergi kembali nanti.

AHLAN WA SAHLAN YAA RAMADHAAN
Selamat datang wahai bulan suci Ramadhan


*gambare saka kene*

Friday, July 6, 2007

Mutasi...mutasi... (2)

Akhirnya...

Tadi pagi SK tentang mutasi pegawai pelaksana dah mulai 'disebar'. Teman2 yg sebelumnya dah deg-degan menanti kabar mutasinya masing2 langsung pada nanyain, kena mutasi ga? mutasi ke mana? dst

Aku sendiri -juga istriku- ternyata ga ke mana-mana, alias sih tetep di sini, di Balikpapan kota minyak kota beriman, kota 'tercinta. Semula sih, kami pengin bisa pindah ke Pekalongan, kampung halamanku. Instansiku memang buka kantor cabang baru di sana.
Knapa pengin pindah ke sana? Yaa biasa, salah satunya pengin deket ama ortu n mertua (Magelang), biar bisa berbuat lebih baik lagi ke mereka. Maklum di sini kami harus ada persiapan klo pengin mudik.

'Hasil' SK ini, bagaimanapun masih kami syukuri. Kami emang berharap klo ga bisa ke Pekalongan, lebih baek tetep di sini aja. Bukan apa2. Klo pindah ke tempat laen berarti harus mulai lagi dengan kehidupan baru di tempat baru, sementara di sini kami dah lumayan 'stabil' n masih ada rencana2 yg mesti diselesekan. Walo sebenarnya kami juga ga terlalu masalah kalo ternyata harus demikian. (Tadinya kami menduga ada kemungkinan pindah ke Samarinda)

Akhirnya...
kami ternyata tetep di sini. Di Balikpapan. Nampaknya kami masih harus banyak berbagi lagi di sini. Paling tidak untuk sementara ini.
Buat temen2 yg dapat mutasi ke tempat laen, yg tersebar dari Aceh ampe Papua, selamat memulai hidup barunya, selamat dengan pengalaman barunya. Jalani dengan sebaik-baiknya yg mampu kalian lakukan.
Semoga Allah tambahkan keberkahan-Nya kepada kita semua atas semua kebaikan kita. Semoga Allah terus membimbing kita.

Semangat bro!!

Thursday, June 14, 2007

Mutasi... mutasi...

Demikian salah seorang teman chatting-ku akhir-akhir ini sering memulai sapaannya. Dia mengingatkan sekaligus bertanya bagaimana perkembangan/informasi tentang mutasi di instansi kami. Kami memang lagi sama-sama menunggu hal ini, walo kami berada pada direktorat yg berbeda. Mutasi memang sering menjadi tema yg seru untuk diobrolkan. Kebetulan instansi tempatku bekerja lagi ada perubahan organisasi, dan membuka beberapa kantor cabang baru di daerah-daerah. Teman-teman di kantor pun sekarang lagi dalam kondisi harap-harap cemas, menanti kepastian akankah mereka terkena mutasi??? Mutasi ke mana??

* * *
Mutasi, pindah ke tempat lain dalam rangka pelaksanaan tugas (termasuk di dalamnya promosi, naik menduduki jabatan tertentu), sesungguhnya adalah sesuatu yg lumrah terjadi. Apalagi pada instansi pemerintah yg memiliki kantor-kantor operasional di daerah-daerah. Wajar adanya. Bahkan boleh dikata itu merupakan tuntutan, yg mesti dilakukan agar organisasi tersebut terus bergerak. Supaya dinamis. Oleh karena itu wajar pula jika instansi tersebut merencanakan & melakukannya secara berkala.

Dari sisi orang/pegawai yg mengalami mutasi pun, sebenarnya banyak manfaat yg bisa diambil. Dia akan mengetahui budaya-budaya tempat lain, kebiasaan-kebiasaan di daerah baru yg sangat mungkin berbeda dg daerah yg sebelumnya ditempati. Termasuk juga akan tahu bagaimana karakter umum orang-orang daerah tersebut. Dia akan makin terlatih menghadapi berbagai persoalan baru, baik dalam pelaksanaan tugas/kerjanya maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Dan biasanya, dengan makin beragamnya orang yg dihadapi, maka kearifan dan kebijaksanaannya akan makin terasah.

Pada kenyataannya, terkadang pelaksanaan mutasi menyertakan/menyisakan pertanyaan-pertanyaan akan “keadilan” / kebijakan mutasi yg diberlakukan. Kenapa si A yg baru beberapa tahun sudah dipindah, sementara si B yg telah bertahun-tahun qo’ belum dipindah? Kenapa si C yg minta pindah dg alasan lebih kuat (karena sakit, misalkan) tidak dikabulkan, sementara si D dg alasan ala kadarnya malahan dikabulkan permohonan pindahnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yg sejenis sering muncul. Maka tidak heran, kalo akhirnya faktor kedekatan dg pegawai bagian mutasi (ato pejabat lainnya) dan adanya pelicin/imbalan, diduga menjadi sebagian dari faktor penentu terjadi ato tidaknya mutasi seseorang.
Memang sih, di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa mengelola mutasi terhadap sekian banyak orang pegawai tidaklah gampang dan sederhana.

Aku (kami, keluarga) sendiri sebenarnya termasuk orang yg enjoy aja menghadapi mutasi. Mo mutasi ke mana aja, sebetulnya aku siap (heheheheh...bukannnya nantang lho, ini). Alhamdulillah ada kemudahan buat aq untuk mencari kenalan di tempat baru, melalui jaringan perkawanan yg ada. Keyakinan bahwa mutasi tersebut termasuk yg terbaik yg Allah berikan kepada kita, juga akan menambah ke-enjoy-an kita menghadapi mutasi. Ditambah lagi dengan keyakinan bahwa sebenarnya banyak yg bisa kita lakukan di tempat yg baru, kegiatan yg bermanfaat.
Sesungguhnya semua tempat di bumi ini adalah milik Allah. Di sana ada manusia lain, yg sama-sama saling membutuhkan, yg juga bisa saling memberi manfaat.

Namun, harus dimaklumi, bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan cinta pada hal-hal tertentu. Salah satu di antaranya adalah cinta akan kampung halaman. Dan ini menjadi salah satu alasan tersendiri bagi seseorang untuk akhirnya berharap apakah dia tetap di tempat (tidak mutasi) atau pindah ke tempat baru. Wajar kalo seseorang berharap bisa kembali ke kampungnya, betapa pun sederhana (ato rame, ato kumuh, ato ...seperti apalah) kampungnya. Tempat yg penuh dengan kenangan, apalagi kalo di sana ada ortu yg masih hidup, sanak sodara, dll.
Naah...demikian pula dengan aku. (o alaah, ...ujung-ujungnya begini, tho? ...jadi tnyata dirimu sendiri lagi pengin balik kandang, nih...???) Heheheheh...bgini temen-temen, sekali lagi, ini adalah keinginan yg wajar (& sebenarnya ada alasan-alasan, pertimbangan-pertimbangan, mengapa kami berharap demikian). Dan, aku tetep konsisten qo’ dengan kesiapan mutasiku di atas (enjoy, man...).

Apa pun yg terjadi, itu adalah yg terbaik. Apa yg telah Allah takdirkan, tidak akan luput dari kita. (Tapi) Selama itu belum terjadi, kita masih bisa berusaha & berdoa untuk memilih takdir lain yg kita harapkan. Ya, ngga’??