Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Thursday, April 30, 2009

Rumah Kedua

Rencana pola gilirannya adalah empat atau lima hari di ruma kedua, dan tiga atau dua hari di rumah pertama. Semoga lancar...


Pembagian ini berawal dari belajarnya Zufar di lembaga pendidikan Tarbiyatul Qur’an untuk menghafal Al-Quran. Kurang lebih baru tiga bulanan ini. Adik bungsunya, Zuhair, juga ikut belajar di sana, di kelas/tingkat TK nya.


Selama hampir tiga tahun, Zufar belajar sendiri di rumah. Ya, bersama-sama dengan kami, sih. Maksudnya, dia ngga’ belajar di sekolah, atau bahasa lugasnya: dia tuh ngga’ sekolah. Sambil belajar di rumah, dia ikut beberapa aktivitas di luar, sebagiannya kursus. Kebetulan masih ada adik yg bungsu juga di rumah. Jadi, dia sekalian nemenin adiknya di rumah.


Dalam perjalanannya, nampaknya masih banyak yg sebenarnya bisa dilakukan oleh Zufar. Dan itu belum bisa dipenuhi dg pola belajarnya yg sekarang. Ditambah lagi bapak-ibunya (abi-umminya) dua-duanya bekerja. Kami, ortunya, bersama dia memang terus mencoba mencari aktivitas lain yg ”cocok” dg dia. Sampai akhirnya –setelah berbagai pilihan dibicarakan & sebagiannya telah dilakukan– jatuhlah pilihan kepada tahfizhul quran di Tarbiyatul Quran-nya Pak (dokter) Hakim. Pak Hakim ini, bersama isterinya memang sudah cukup lama berkecimpung dalam pendidikan Islam. Salah satu hasilnya yg sampai sekarang berkembang adalah Tarbiyatul Quran tersebut.


Nah, singkatnya (ga sabar nulisnya nih :D , masih da kerjaan yg lain..), kebetulan di lembaga Tarbiyatul Quran –yg bertempat di Puskib eks RSU Balikpapan– memiliki beberapa ruangan/kamar/rumah petak yg memungkinkan untuk dihuni oleh para keluarga siswa yg belajar di sana. Dengan pertimbangan agar lebih mendukung belajarnya Zufar & adiknya, maka kami (bersama anak-anak) sepakat untuk tinggal di sana selama hari-hari belajarnya. Nanti pas libur (jumat-sabtu, ato ditambah ahad) kembali ke rumah aslinya.


Di ’kompleks’ Tarqi (Tarbiyatul Quran) itu tinggal Pak Hakim & keluarga, sebagian pengurus, & (sebagian) para ustad/ahnya, & beberapa keluarga siswa/santri yg belajar di sana. Dengan lingkungan yg seperti itu, harapannya proses belajar Zufar & Zuhair (juga buat kami, termasuk Zahron) akan lebih kondusif. Termasuk tidak perlu bolak-balik ke rumah yg cukup jauh. Semoga.

Friday, July 6, 2007

Mutasi...mutasi... (2)

Akhirnya...

Tadi pagi SK tentang mutasi pegawai pelaksana dah mulai 'disebar'. Teman2 yg sebelumnya dah deg-degan menanti kabar mutasinya masing2 langsung pada nanyain, kena mutasi ga? mutasi ke mana? dst

Aku sendiri -juga istriku- ternyata ga ke mana-mana, alias sih tetep di sini, di Balikpapan kota minyak kota beriman, kota 'tercinta. Semula sih, kami pengin bisa pindah ke Pekalongan, kampung halamanku. Instansiku memang buka kantor cabang baru di sana.
Knapa pengin pindah ke sana? Yaa biasa, salah satunya pengin deket ama ortu n mertua (Magelang), biar bisa berbuat lebih baik lagi ke mereka. Maklum di sini kami harus ada persiapan klo pengin mudik.

'Hasil' SK ini, bagaimanapun masih kami syukuri. Kami emang berharap klo ga bisa ke Pekalongan, lebih baek tetep di sini aja. Bukan apa2. Klo pindah ke tempat laen berarti harus mulai lagi dengan kehidupan baru di tempat baru, sementara di sini kami dah lumayan 'stabil' n masih ada rencana2 yg mesti diselesekan. Walo sebenarnya kami juga ga terlalu masalah kalo ternyata harus demikian. (Tadinya kami menduga ada kemungkinan pindah ke Samarinda)

Akhirnya...
kami ternyata tetep di sini. Di Balikpapan. Nampaknya kami masih harus banyak berbagi lagi di sini. Paling tidak untuk sementara ini.
Buat temen2 yg dapat mutasi ke tempat laen, yg tersebar dari Aceh ampe Papua, selamat memulai hidup barunya, selamat dengan pengalaman barunya. Jalani dengan sebaik-baiknya yg mampu kalian lakukan.
Semoga Allah tambahkan keberkahan-Nya kepada kita semua atas semua kebaikan kita. Semoga Allah terus membimbing kita.

Semangat bro!!

Saturday, June 30, 2007

Selamat, Ya...

Kembali, sebagaimana bulan lalu, hari ini adalah hari terakhir di bulan ini pada tahun ini. Kali ini, setidaknya ada dua momen yg aku catat sebagai sesuatu yg spesial.

Pertama, temanku Dhika, hari ini melangsungkan pernikahannya di Jakarta. Sebenarnya dia tuh adik kelas SMA-ku, walo ga ketemu. Aku taunya ya di dunia sini, dunia maya. Terus terang walo dia adik kelas, lebih muda, harus kuakui dia banyak memiliki kelebihan dibanding aku. Liat aja sendiri blognya. Anda bisa merasakan kelebihan itu. Tidak hanya kelebihan dalam hal kemampuan, ketrampilan, ato kepintaran. Namun, juga dalam hal kebaikannya; akan terasakan di dalam blognya.
Yaa, hari ini menjadi hari yg baru bagimu, Dhik. Hari yg baru untuk memulai kebaikan2 yg lainnya lagi. Lebih banyak lagi potensi kebaikan yg ada di depanmu daripada sebelumnya. Makin luas medan kebaikan yg bisa engkau lakukan, dibanding ketika engkau sendirian. Walo juga, makin bertambah ujian yg mengiringinya. Namun, smua (ujian) itu tidaklah ada dan terjadi melainkan akan makin meningkatkan kebaikan yg ada padamu, ketika kamu bisa menghadapi & menaklukkannya.
Semoga barakah Allah dilimpahkan bagimu & keluargamu, Dhik. Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khairin.

Kedua, terkait dengan sosok seorang wanita yg tangguh. Dia teman kuliahku dulu. Satu jurusan, satu angkatan. Di sela2 waktunya yg tidak banyak -sebagaimana waktu yg kita miliki juga, sama banyaknya- dia harus pandai2 membagi waktunya untuk berbagai aktivitasnya. Untuk mengurus & mendidik anaknya, melayani suaminya, melakukan kerjaan2 kantornya, aktivitas di yayasannya, dan .. ya, tentunya aktivitas untuk dirinya sendiri jugalah.
Munkin di antara Anda, ada juga yg seperti dia. Anda bisa merasakannya sendiri. Seperti apa repotnya. Seorang ibu, ...yg demikian. Di balik kerepotannya, sungguh kita tau ada kemuliaannya, ketika smuanya bisa dipenuhi hak2nya.

Menghadapi & mendidik anak adalah sesuatu yg lumrah & semestinya dilakukan oleh ibu/orang tua. Tapi, kita juga tau bagaimana sih, kalo kita berhadapan dg mereka? Mereka yg masih punya dunianya sendiri, yg penuh dg imajinasi, yg seringkali belum bisa nyambung dengan logika kita pada saat kita ingin menasihatinya, misalkan. Apalagi kalo jumlahnya tidak hanya satu. Adalah sesuatu yg kerap terjadi, bila mereka rebutan sesuatu mainan ato lainnya. Ya, perlu ketelatenan, peduli, empati.
Demikian pula terhadap suami. Ada kewajiban lain yg mesti ditunaikan, di samping ada hal yg bisa dilakukan dengan saling membantu. Terhadap kerjaan dan aktivitas di luar pun tidak beda. Ada tugas2 yg mesti diselesaikan. Pun, dia tidak boleh melupakan kebutuhan dirinya. Apalagi dengan kegiatannya yg tidak sedikit. Dia perlu menjaga kondisinya. Dia perlu mendidik dirinya, agar terus bertambah pengetahuannya. Agar dia tetap bisa memberikan kebaikannya kepada yg lainnya.

Pada hari ini, wanita itu, teman kuliahku dulu, telah bertambah satu tahun usianya. Sudah selayaknya aku mengucapkan selamat kepadanya. Terima kasih kepadanya. Apalagi dia adalah pasanganku. Isteriku. Yg selama ini telah menemaniku, membantuku, melahirkan dan mendidik anak2, dengan segala lika-likunya.
Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga sisa umur yg ada, Allah karuniakan keberkahan sehingga akan membuahkan banyak lagi manfaat. Manfaat untuk anak, manfaat untuk kita, manfaat untuk orang lain, juga manfaat untukmu.

Zuzazu juga ngucapin selamat untuk Umi. "Selamat ulang tahun, Umi ya. Semoga Umi tambah sabar menghadapi kreativitas kami", hehehehehe :D Abang Zufar berharap dapat adik perempuan; Mas Zahron minta adik laki lagi; hmm... Zuhair..?? :))

Thursday, June 14, 2007

Mutasi... mutasi...

Demikian salah seorang teman chatting-ku akhir-akhir ini sering memulai sapaannya. Dia mengingatkan sekaligus bertanya bagaimana perkembangan/informasi tentang mutasi di instansi kami. Kami memang lagi sama-sama menunggu hal ini, walo kami berada pada direktorat yg berbeda. Mutasi memang sering menjadi tema yg seru untuk diobrolkan. Kebetulan instansi tempatku bekerja lagi ada perubahan organisasi, dan membuka beberapa kantor cabang baru di daerah-daerah. Teman-teman di kantor pun sekarang lagi dalam kondisi harap-harap cemas, menanti kepastian akankah mereka terkena mutasi??? Mutasi ke mana??

* * *
Mutasi, pindah ke tempat lain dalam rangka pelaksanaan tugas (termasuk di dalamnya promosi, naik menduduki jabatan tertentu), sesungguhnya adalah sesuatu yg lumrah terjadi. Apalagi pada instansi pemerintah yg memiliki kantor-kantor operasional di daerah-daerah. Wajar adanya. Bahkan boleh dikata itu merupakan tuntutan, yg mesti dilakukan agar organisasi tersebut terus bergerak. Supaya dinamis. Oleh karena itu wajar pula jika instansi tersebut merencanakan & melakukannya secara berkala.

Dari sisi orang/pegawai yg mengalami mutasi pun, sebenarnya banyak manfaat yg bisa diambil. Dia akan mengetahui budaya-budaya tempat lain, kebiasaan-kebiasaan di daerah baru yg sangat mungkin berbeda dg daerah yg sebelumnya ditempati. Termasuk juga akan tahu bagaimana karakter umum orang-orang daerah tersebut. Dia akan makin terlatih menghadapi berbagai persoalan baru, baik dalam pelaksanaan tugas/kerjanya maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Dan biasanya, dengan makin beragamnya orang yg dihadapi, maka kearifan dan kebijaksanaannya akan makin terasah.

Pada kenyataannya, terkadang pelaksanaan mutasi menyertakan/menyisakan pertanyaan-pertanyaan akan “keadilan” / kebijakan mutasi yg diberlakukan. Kenapa si A yg baru beberapa tahun sudah dipindah, sementara si B yg telah bertahun-tahun qo’ belum dipindah? Kenapa si C yg minta pindah dg alasan lebih kuat (karena sakit, misalkan) tidak dikabulkan, sementara si D dg alasan ala kadarnya malahan dikabulkan permohonan pindahnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yg sejenis sering muncul. Maka tidak heran, kalo akhirnya faktor kedekatan dg pegawai bagian mutasi (ato pejabat lainnya) dan adanya pelicin/imbalan, diduga menjadi sebagian dari faktor penentu terjadi ato tidaknya mutasi seseorang.
Memang sih, di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa mengelola mutasi terhadap sekian banyak orang pegawai tidaklah gampang dan sederhana.

Aku (kami, keluarga) sendiri sebenarnya termasuk orang yg enjoy aja menghadapi mutasi. Mo mutasi ke mana aja, sebetulnya aku siap (heheheheh...bukannnya nantang lho, ini). Alhamdulillah ada kemudahan buat aq untuk mencari kenalan di tempat baru, melalui jaringan perkawanan yg ada. Keyakinan bahwa mutasi tersebut termasuk yg terbaik yg Allah berikan kepada kita, juga akan menambah ke-enjoy-an kita menghadapi mutasi. Ditambah lagi dengan keyakinan bahwa sebenarnya banyak yg bisa kita lakukan di tempat yg baru, kegiatan yg bermanfaat.
Sesungguhnya semua tempat di bumi ini adalah milik Allah. Di sana ada manusia lain, yg sama-sama saling membutuhkan, yg juga bisa saling memberi manfaat.

Namun, harus dimaklumi, bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan cinta pada hal-hal tertentu. Salah satu di antaranya adalah cinta akan kampung halaman. Dan ini menjadi salah satu alasan tersendiri bagi seseorang untuk akhirnya berharap apakah dia tetap di tempat (tidak mutasi) atau pindah ke tempat baru. Wajar kalo seseorang berharap bisa kembali ke kampungnya, betapa pun sederhana (ato rame, ato kumuh, ato ...seperti apalah) kampungnya. Tempat yg penuh dengan kenangan, apalagi kalo di sana ada ortu yg masih hidup, sanak sodara, dll.
Naah...demikian pula dengan aku. (o alaah, ...ujung-ujungnya begini, tho? ...jadi tnyata dirimu sendiri lagi pengin balik kandang, nih...???) Heheheheh...bgini temen-temen, sekali lagi, ini adalah keinginan yg wajar (& sebenarnya ada alasan-alasan, pertimbangan-pertimbangan, mengapa kami berharap demikian). Dan, aku tetep konsisten qo’ dengan kesiapan mutasiku di atas (enjoy, man...).

Apa pun yg terjadi, itu adalah yg terbaik. Apa yg telah Allah takdirkan, tidak akan luput dari kita. (Tapi) Selama itu belum terjadi, kita masih bisa berusaha & berdoa untuk memilih takdir lain yg kita harapkan. Ya, ngga’??

Friday, June 8, 2007

Aku pengin ini! Yg laen, ga’ boleh pake...

Tulisan ini bermula dari temen di sebuah milis yg curhat tentang salah satu dari tiga anaknya. Kukira ini adalah satu fenomena yg biasa dan sering terjadi pada anak. Dan mungkin juga ini adalah suatu fase (?) yg mesti dilalui seorang anak –saking banyaknya anak yg kulihat pernah berperilaku seperti ini. Tapi, mungkin (hmm...”kayaknya” pasti, dink) juga boleh dikata bahwa pada diri tiap orang mempunyai dasar/potensi sifat demikian. Ya,…setiap orang. Setiap makhluk yg bernama manusia. Dan akan makin terlihat ato gampang terlihat pada manusia kecil yaitu anak-anak, ato … manusia dewasa … yg bersifat kekanak-kanakan. Walo juga, potensi seperti ini–menurutku– ga perlu sampe harus dihilangkan. Cukup dikendalikan.

Jelasnya piye tho, iki [baca: gimana tho, ini]... qo’ masih misterius. Okey, ini aku kutipkan imel dari temen yg curhat tadi. Aku kutip seperlunya, dan aku ubah/lengkapi redaksi kalimatnya seperlunya juga, insya Allah tanpa mengubah maksudnya...

... anak yg pertama (6 th) th ini masuk SD , yg ke-2 masuk TK (4 th) .. dan yg ke-3 (2 th) masuk play group.. Selain yg formal2 .. kami juga memberikan tambahan pelajaran di rumah... Masalah tebesar adalah anak ke-2 (? tertulis demikian…)...selain sering ikutan belajar bersama kakaknya yg setingkat TK.. di playgroupnya, dia sudah tidak tertarik lagi dg pelajaran di sekolahnya. . Krn kita lihat memang kemampuan anak ke-2 saya jauh di atas rata-rata anak seusia dia (hanya baca dan tulis saja yg belum mau/bisa, ... tp utk ketrampilan gunting, tempel, menggambar .. sudah setingkat anak yg mau masuk SD)... hanya saja ... kelakuannya itu mau seenaknya sendiri .. selalu minta diprioritaskan, …kalau tidak, bakalan ngamuk ...Bertiga mereka belajar dg buku dan peralatan yg sama, tapi ada-ada saja ...yg katanya milik dia lebih jelek lah, atau pengen yg punya adik/kakaknya. . Dan caranya selalu merebut, bukannya meminta baik-baik... bagaimana ya caranya utk mengimbangi emosinya...
bahkan kalau sedang belajar komputer semua orang tidak boleh ikutan.. dia yg pegang kendali ...yg laen jadi penonton..
yg laen udah ngalah dan lihat TV... eeh direbutnya pula TV.. sampai kita2 bingung.. apa sih maunya anak ini.. kok usia segitu masih AKU AKU dan AKU ....

Nah, berikutnya adalah sharing yg bisa aku berikan...

Ini hanya sekadar sharing, munkin ada yg bisa diambil manfaatnya.
Karena aku yakin tiap anak punya keunikan masing-2. Sangat munkin 2 atau lebih anak yg memiliki kasus serupa, tapi ternyata perlu penanganan yg berbeda.

Dulu anakku yg kedua kurang lebih juga berperilaku –sebagiannya seperti anak di atas. Kalo kakak dan adiknya main, sering dia usilin. Apa yg mereka mainin, dimintanya; begitu pula kalo dah ganti mainan, dia ikut ganti juga. Bahkan tidak jarang, tanpa sebab apa pun, tiba2 dia "mukul" adiknya, ... suka ngusilin deh pokoknya. Sampe2 kami (ortunya) juga khawatir kalo2 ini gejala autis; dianya emang sangat aktif (alhamdulillah, autis sih, engga’).

Singkat ceritanya nih, alhamdulillah.. sikapnya yg kayak gituan sekarang dah mereda. Di antara yg kami lakukan terhadapnya adalah kami coba untuk selalu bisa menghadapinya secara wajar; maksudnya tanpa banyak penekanan/pressure terhadap dia, misal maksain dia harus begini, jangan begitu. Tidak terpancing ikut emosi melihat kelakuannya. (emang, sih ... marah kadang ga’ bisa ditahan2, walo penginnya ga’ mo marah. ya, mas Aar?)
Kami berusaha melakukan komunikasi yg lebih "setara" dg dia; sebisanya kami tidak memposisikan diri sebagai "raja/ratu" yg serba tau apa yg terbaik baginya dan oleh karenanya dia harus mengikuti kami. Kami coba berdialog dengannya secara baik2, ... kenapa dia berlaku seperti itu, maunya apa? Lalu coba kami cari/tawarkan alternatif2nya. Kalo pun ternyata dia belum mau,... ya udah kami (termasuk kakaknya) mengalah dulu, beri dia kesempatan untuk menggunakan/memainkan apa yg akan/sedang kita pakai (dg tetap menjaga keamanannya, misalkan waspada terhadap barang2 yg mudah rusak ato berbahaya).
Dan ketika kami berpindah ke aktivitas lain, ternyata dia ngikut juga, dan ngga mau ngalah juga,.. kadang kami (sekali lagi, bersama kakaknya) sepakat aja untuk niggalin dia, ngga nglakuin apa2, ... untuk "mengucilkan/ menghukum" dia. Tapi "pengucilan" ini biasanya ngga lama, dia biasanya pengin bergabung juga.
Atau kami coba cari/alihkan ke kegiatan lain yg lebih bisa dilakukan bersama-sama. Biasanya sih mengambil/membaca buku2. Setelah beginian, biasanya dah mulai normal. Apa yg mo kami lakukan dah mulai bisa dikerjakan kembali.
Memang hal ini kadang tidak mudah dilakukan, dan tidak bisa sekali jalan terus langsung jadi/berhasil. Semuanya berproses, perlu pembiasaan. Perlu waktu.

Selain cara seperti tadi, melalui aktivitasnya di TKIT yg dia ikuti, alhamdulillah hal itu juga turut memberi perubahan kepadanya. Dengan masuk ke TK, dia jadi punya aktivitas lain/baru, punya/bertambah teman2 lagi. Ada interaksi yg laen: dengan temen2nya atau gurunya. Itu semua merupakan masukan dan pengalaman yg bagus buat dia. [Dan ini yg menjadi salah satu alasan kenapa dia belum homeschooling seperti kakaknya –walo dia sendiri juga pengin/iri– yaitu karena "keaktifan" dia yg seperti itu. Kami khawatir malah "mengganggu" proses homeschooling yg baru kami mulai bersama kakaknya.]

Naah... (ternyata) sekarang gantian adiknya yg mulai mengalami/melakukan hal seperti itu. Apa yg kami/kakak2nya lakukan, biasanya dia ikut nimbrung, ... minta agar dapat bagian/berperan, trus ... dia kuasai. Kami pun kembali coba mendekatinya dengan cara tadi.
Heheheheh...muter lagi, nih... :D

Nampaknya –mengulang seperti yg dah ku tulis di depan– hal seperti ini memang bisa jadi merupakan sebuah fase yg lumrah dilalui anak2. Walo antara satu anak dg yg lainnya berbeda, baik dalam hal bentuk perilaku (keegoannnya) atau lama jangka waktunya. Bagaimana dengan anak anda? Anak2 di sekitar/lingkunagn anda?

Setiap anak memang unik. Dan kita sebagai orang tua memang mempunyai peranan untuk menjadi teman bermain dia, sahabat untuk saling berbagi cerita, guru yg memberikan arahannya dengan bijaksana, dan sebagai orang tua yg menjadi tempat yg teduh buat dia berlindung.

Thursday, May 31, 2007

Apalah Arti Sebuah Nama?

Saatnya: ZUZAZU...

Hari ini adalah hari terakhir di bulan ini pada tahun ini (hehehe...istilahnya ’yak apa ajah). Aku sengaja menghabiskan bulan ini –sebagai bulan pertama ’on air’nya blog ini– dengan menulis berbagai pengantar. Dan inilah gong-nya, ... puncaknya.

* * *

Apalah arti sebuah nama? Kata-kata yg terkenal; kadang ada pro-kontranya. Umumnya sih, orang kasih nama tuh, mesti ada artinya. Maksudku, ketika dia memberi suatu nama mesti ada latar belakang, atau alasan, atau harapan, ... emm... paling ga’ ada semangat yg mengiringi dia waktu itu. Ya, ngga? [ya, ga seh.... heheheh...maksa!]. Nah, untuk mengakomodir orang-orang seperti itu, yg menanyakan 'kenapa sih, nama blognya zuzazu? apa maksudnya? apa artinya? dst...' maka tulisan ini dibikin.


zuzazu. Zu pertama Zufar, lengkapnya Zufar Abdur Rauf (9 th). Kadang dipanggil Jupal, Yupal, ato Zoofanc (yg ini kadang ta' pake sebagai nickname/id-ku). Anak pertama. Sempat sekolah hingga kelas 3. Memasuki kelas 4, setelah masuk beberapa bulan, dia keluar, dan (kami) lebih memilih untuk homeschooling. Relatif enam bulan ini sudah, berjalan HSnya. Masih perlu banyak perbaikan dan terus berproses. Sekarang dia lagi suka berenang, dan mulai ikut-ikutan pengin bikin blog, hehehe ... ngikutin abinya (Bi, ajarin abang bikin (blog) internet kayak, Abi, donk..” katanya). Jadilah dia membuat karyanya.

zuzazu. Za kedua Zahron, lengkapnya Muhammad Zahron (6 th). Kadang dipanggil Aron; ada juga (duluu..) 1 orang yg manggil Ayonk. Anak kedua. Kata orang-orang dia lebih ‘sosial’ dibanding kakaknya, enak bergaul atau diajak bergaul. Tapi dia (dalam perkembangan sementara ini) kadang ga’ terduga, misal ... tiba-tiba marah, atau nggangguin adiknya tanpa sebab. Dia sekarang masuk TK A (TK kecil). Sebenarnya dia juga pengin untuk sekolah/belajar di rumah aja kayak abangnya. heheheheh...terang aja, dunk...ngiri liat abangnya sering main di rumah. Cuma kami belum mengizinkannya, bisa (nge)repot(in) nanti, kalo diizinkan sekarang. Biarlah dia ke TK dulu sambil meredakan sikap/tindakan 'tidak terduga'nya. O ya, kalau Zufar suka dipanggil dengan sebutan Abang, dia minta dipanggil dengan sebutan Mas ajah. Jadinya kita biasa manggilnya Mas Aron, Mas Zahron. Foto-foto lainnya ada di sini.

zuzazu. Zu ketiga Zuhair. Lengkapnya Abbas Hasan Zuhair (2,5 th). Kadang dipanggil Yu’el. Paling digemesi ama orang, nih... untuk saat ini. Biasalah, gantian dengan kakak-kakaknya, karena yaa...masih kecil, imut, lucu... Nah, beda dengan kakak-kakaknya, dia nih ga’ ikutan pake imunisasi. Pake herba aja. Umminya dah biasa konsumsi herba (setelah mengenal konsep herba) sejak dia (sang Ummi) hamil. Dan sejak lahir juga, dah biasa dia (kali ini maksudnya ke Yu’el, ya...hihihi) dikasih herba: madu atau yg laennya. Alhamdulillah sampai sekarang sehat-sehat ajah, dia masih bertahan sebagai yg ’tergemuk’ di antara sodara-sodaranya. Sekarang dia ngomongnya belum sempurna. Potongan suku kata terakhirnya aja yg jelas: ..wat bang, maksudnya (ada) pesawat terbang, contohnya tuh.

Ngomong-ngomong soal nama (panggilan) yg pake huruf ’zet’ (Z) semua, sebenarnya agak kebetulan ajah, .. ga’ direncanain sejak awal. Pertama ngasih nama Zufar, yaa...kira-kira hanya asal cari nama yg masih jarang dipake orang lah, ... cari di buku nama-nama bayi. Akhirnya ketemu & disepakatinya pake nama Zufar itu. Lalu, anak kedua, ... kebetulan kami tertarik ama gurunya Hasan Al-Banna, kita pake namanya: Muhammad Zahron. Yg ketiga ... akhirnya ngikut aja, ... yaa.. pake nama yg ada ’zet’nya deh, sekalian. Hehehehe, gitchu..