Friday, July 27, 2007

Al-Jihad, Masjid yg Menjadi Bagian Sejarahku

Al-Jihad adalah nama masjid di komplek perumahan (RSS)ku. Ia mulai dirintis pendiriannya sejak 1997. Pihak pengembang hanya menyediakan tanahnya; dan setelah dimintai sumbangannya, waktu itu hanya memberikan bantuan dua ratus ribu rupiah. Awal pembangunan mushola (waktu itu masih berupa mushola) –yg mengejar (target) Ramadhan harus sudah bisa dipakai– hanya berupa bangunan 6x6 m2 (sebagaimana tipe bangunan rumah di komplek itu) yg terdiri atas tiang2 dan setengah (tepatnya munkin sepertiga) tembok. Puff,,semilir deh pokoknya waktu itu, klo pas lagi (shalat) tarawih di mushola komplek.
Setelah itu, bangunannya agak berkembang, ditembok smua. Tapi tanpa plesteran; dan pintu serta (kusen) jendelanya pake bekasnya rumah2 komplek (rumah2 yg telah mengalami renovasi. Terus berkembang –dengan berbagai lika-likunya (tau sendiri, kan,, manusia itu macem2)– dari diplester, dibikinin tempat berwudhu, dilebarin, dipugar plus diluruskan kembali kiblatnya, smpe dilebarin lagi (utk yg kedua kali) sekaligus dengan membeli kapling tanah yg ada di depan masjid.

Masjid ini relatif berdiri atas ‘jerih payah’ warga kompleknya sendiri. Dengan kemampuan seadanya, yg memang rata2 adalah keluarga yg menengah agak ke bawah stratanya (heheheheh istilahnya aneh bangets, ya..). Jadi, wajar memang, kalo akhirnya jalannya pembangunan masjid ini pelan2.
Seiring dengan perkembangan masjid, tentu ada hal2 yg menjadi kenangan tersendiri bagi orang2 yg terlibat dalam ‘hiruk-pikuknya’ masjid ini. Dua hal yg ingin aku tuliskan di sini adalah tentang obrolannya dan makan-makannya. Weh..weh.. kayak apa itu??

Ngobrol bareng di masjid
Seringnya sih, ngobrol ini dilakukan setelah maghrib, sambil menunggu waktu isya datang. Walopun ngga tiap hari juga. Namanya juga ngobrol, jadi ngga ada tema tertentu. Suka2 deh, ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Saling tukar info, tukar pendapat. Eh, kadang tidak hanya tukar pendapat, tukar pendapatan juga… Nraktir, maksudnya. Seperti kemarin maghrib, Pak Kusasi (kerja di PT NUH) yg baru saja selesai tugas dari lokasi, dia nraktir makan bakso buat kita2 yg lagi cangkrukan di masjid, selesai shalat maghrib. Sekadar info, biasa.. di masjid ada lelek/tukang bakso yg sering ikut shalat jamaah di masjid.
Tapi jangan beranggapan ini ngobrol2 yg tiada guna. Setidaknya silaturahim di antara kami makin terjalin lagi, palagi klo ada yg nraktir kayak kemaren. Terkadang juga ada jamaah baru, baik warga baru ataupun famili dari warga yg akan tinggal beberapa lama di rumah familinya (biasanya sih orang tua yg lagi berkunjung ke rumah anaknya); nah ajang ngobrol ini menjadi sarana utk memperdalam kenalnya kami kepadanya.
Faedah lain adalah, tidak jarang kami mendapat info bermanfaat dari salah seorang teman ngobrol itu. Baek itu, info ttg pekerjaan, pendidikan (utk anak2 kami), aktivitas dakwah, sosial, dan berita2, ato yg laennya.
Paling tidak juga, buatku, kesempatan ini sering menjadi sarana ‘jeda’ku dari rutinitas kerjaan kantor, aktivitas dakwah di lembaga yg kuikuti, online di internet (tmasuk ngeblognya), dan rutinitas di rumah. Tidak jarang muncul inspirasi dari pertemuan santay ini.

Makan-makan bareng
Ini menarik pula. Ya, ngga?? Ini memang hal menarik, yg banyak disukai orang, (barangkali) termasuk pula anda.
Makan bareng ini, selain dilakukan pada saat2 seperti kerja bakti dan waktu iedul Qurban, juga dilakukan secara insidentil tergantung pada kesepakatan temen2. Kadang juga dilakukan setelah acara pengajian, sekaligus ngajak guru/pengisinya.
Menunya pun macam2/ganti2. Dari rica-rica manado, coto makassar, soto banjar, gulai, lalapan, de es te. Klo ga makan besar, yaa…sekadar snack, makanan kecil, ini lebih sering lagi kalo pas iedul Fitri.
Makan bareng-bareng,, tentu terasa beda kan suasananya..?? menambah keakraban, tambah kenal macam2 masakan (aq kenal rica2 ya di sini), dan insya Allah juga menambah pahala (dari yg ikut nyumbang dana, masakin, ngebawain barang/makanannya ke masjid, bahkan juga yg menikmatinya lalu memujinya serta berterima kasih). Wuuih…nikmaaaat. Euunak tenaaaan :)

*di teras samping masjid inilah, biasanya kami ngumpul2*

* * *
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS Annur:61)

Wednesday, July 18, 2007

Sekarang Rajab...

menyusul setelah itu: Sya’ban,…dan… Ramadhan (…terus Syawal).
Ga terasa…
Ya, dua bulan lagi Ramadhan akan hadir.
Tamu agung yg mesti disambut dengan penuh kegembiraan
Bagus kalo kita melakukan persiapan untuk menyambutnya.
Munkin tulisan ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk itu
Ato persiapan lainnya. Bisa kita lakukan.
Hanya mengingatkan…
Bulan yg penuh barokah itu sebentar lagi akan datang…

Allaahumma baariklanaa fii rajabi wa sya’baan, wa ballighnaa ramadhaan

Mengeluh

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang menegakkan shalat

Begitulah manusia...
Dia diciptakan, salah satunya dengan memiliki kecenderungan untuk berkeluh kesah. Tentang apa saja. Di waktu kapan saja. Tidak jarang, ditujukan kepada siapa saja.
Itu memang sudah ‘melekat’ padanya.
Ada orang yg sedikit2 mesti ngeluh. Apa aja mesti dikeluhin. Kepada siapa pun dia mengeluh. Dapat nikmat aja ngeluh (yg katanya kurang banyak lah, qo’ kayak gini aja, qo’ yg di sana lebih banyak dari aku, dsb...), apalagi dapat musibah ato cobaan, hal2 yg memang “dimaklumi” untuk ditanggapi dengan keluh kesah. Parahnya, orang kek gini sangat berpotensi untuk menjadi agen penyebar virus keluhan. Tidak sedikit ada orang, anak, murid, yg pinter mengeluh, karena bersama dia ada pakar mengeluh. Duhh... :(
Ada juga orang yg ngungkapin keluhannya dengan hati2, pilih2 orang, pilih2 kata dst.. klo mo ngeluarin keluhannya. Ngga sembarangan dia ngeluarinnya, ngga mo ngobral lah… Malu…
Walo ada orang2 yg bertekad untuk tetap tegar, tabah, tidak mau cengeng, tidak mau membebani orang laen, …tapi teteeep aja, sifat itu sesungguh telah melekat pada manusia, sebagai fitrahnya. Tidak bisa diingkari & dihindari. Mau ga mau (hehehe..harus mau, ya).

Nah, kata ust Saiful Islam Mubarak (yg dari Bandung itu), ketika bliau ada kesempatan mampir & ngisi taushiyah di kota ini, sesungguhnya kita hidup adalah untuk beribadah kepada Allah, agar kita bertakwa kepadanya. Karena itu, segala kondisi yg terjadi pada kita, segala keadaan yg kita alami, mesti kita sikapi dan kita tanggapi untuk (dalam rangka) ketakwaan kita kepada-Nya. Termasuk kondisi2 kita ketika marah, sedih, mengeluh, dsb, itu harus dilakukan (ato disikapi) agar bermanfaat bagi peningkatan ketakwaan kita.
Nah, lo…nyambung ga nih… Klo kita dapat nikmat, kita lagi suka, kita kaya,,, adalah wajar jika kita harus memanfaatkannya untuk meningkatkan takwa kita. Tapi pas giliran kita kena musibah, lagi sedih dan banyak keluhan, ato kita miskin,,, gimana cara manfaatinnya agar kita makin bertakwa? Yup, ketika kondisinya seperti yg disebutkan pada bagian yg terakhir tadi maka kita harus tetap menghadapinya untuk makin dekat kepada Allah. Ketika marah misalnya kita harus segera ingat untuk tidak melampiaskan secara berlebihan dan merugikan, syukur2 bisa segera ambil air wudhu (berwudhu maksudnya, ga cuma ambil airnya duank ). Ketika sedang duka, ada masalah, curhatlah secara proporsional untuk mendapatkan solusinya, bagus banget kalo menyampaikan keluhannya pada Tuhan kita. Ketika kita miskin, yaa kita harus bangkit dari kemiskinan itu dengan ikhtiar mencari nafkah yg halal. De es te…

* * *
back to ‘mengeluh'…

Kemaren aku mengalami & melakukannya. Di dalam salah satu milis dari beberapa milis yg kuikuti. Akhirnya keluarlah ‘keluhan’ itu dariku. ‘Keluhan’ yg sebenarnya aku sendiri tidak suka untuk memperdengarkannya kepada orang lain. Yg selama ini aku tahan2, dan memang –alhamdulillah– selama ini aku bisa menyiasati & menikmati kondisi itu (yg kukeluhkan) relatif dengan baik, dengan aman.
Keluhan itu akhirnya keluar juga. Setelah ada postingan dari teman yg menyampaikan pengalamannya [baca: keluhannya]. Keluhan di atas keluhan. Bagiku (keluhan) itu perlu disikapi secara simpatik. Dari tulisan dia, serasa aku tidak bisa menahan liukan jari2 ini untuk terus begerak di atas keyboard di depanku. Ungkapkan peduliku, bahwa dia tidak sendirian, masih ada orang2 laennya yg juga mengalaminya. Itu dimaksudkan juga untuk menggugah kesadaran-bersama temen2 milis akan adanya kondisi itu, bahwa itu tidak bisa dipungkiri. Harapannya akan ada ‘tindak balas’ yg mudah2an bisa membantu mengatasi problem yg ada.
Jangan biarkan keluhan2 itu berlalu begitu saja. Harus ada proses saling mengingatkan. Bahwa tidak ada kebaikan pada keluh kesah yg berlarut-larut. Tidak bagus terus melarutkan diri dalam keluhan, dalam kesedihan. Juga harus ada tindakan yg meringankan beban. Bahwa kita perlu membantu orang2 yg perlu pertolongan. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita pada saat kita memerlukannya kelak … di akhirat.

* sory, ya .. isi keluhan itu tidak perlu lah kuulang di ‘forum’ ini. Smg tidak mengurangi kenyamanan anda dalam mengambil hikmahnya
* tuk temen2 milis dejekaen, salam jabat erat. Terus bangun kebaikan & kebersamaan
* tuk mas andri yg ada di center/pusat, khususnya, thnx atas tanggapannya yg bijak

Friday, July 6, 2007

Mutasi...mutasi... (2)

Akhirnya...

Tadi pagi SK tentang mutasi pegawai pelaksana dah mulai 'disebar'. Teman2 yg sebelumnya dah deg-degan menanti kabar mutasinya masing2 langsung pada nanyain, kena mutasi ga? mutasi ke mana? dst

Aku sendiri -juga istriku- ternyata ga ke mana-mana, alias sih tetep di sini, di Balikpapan kota minyak kota beriman, kota 'tercinta. Semula sih, kami pengin bisa pindah ke Pekalongan, kampung halamanku. Instansiku memang buka kantor cabang baru di sana.
Knapa pengin pindah ke sana? Yaa biasa, salah satunya pengin deket ama ortu n mertua (Magelang), biar bisa berbuat lebih baik lagi ke mereka. Maklum di sini kami harus ada persiapan klo pengin mudik.

'Hasil' SK ini, bagaimanapun masih kami syukuri. Kami emang berharap klo ga bisa ke Pekalongan, lebih baek tetep di sini aja. Bukan apa2. Klo pindah ke tempat laen berarti harus mulai lagi dengan kehidupan baru di tempat baru, sementara di sini kami dah lumayan 'stabil' n masih ada rencana2 yg mesti diselesekan. Walo sebenarnya kami juga ga terlalu masalah kalo ternyata harus demikian. (Tadinya kami menduga ada kemungkinan pindah ke Samarinda)

Akhirnya...
kami ternyata tetep di sini. Di Balikpapan. Nampaknya kami masih harus banyak berbagi lagi di sini. Paling tidak untuk sementara ini.
Buat temen2 yg dapat mutasi ke tempat laen, yg tersebar dari Aceh ampe Papua, selamat memulai hidup barunya, selamat dengan pengalaman barunya. Jalani dengan sebaik-baiknya yg mampu kalian lakukan.
Semoga Allah tambahkan keberkahan-Nya kepada kita semua atas semua kebaikan kita. Semoga Allah terus membimbing kita.

Semangat bro!!

Saturday, June 30, 2007

Selamat, Ya...

Kembali, sebagaimana bulan lalu, hari ini adalah hari terakhir di bulan ini pada tahun ini. Kali ini, setidaknya ada dua momen yg aku catat sebagai sesuatu yg spesial.

Pertama, temanku Dhika, hari ini melangsungkan pernikahannya di Jakarta. Sebenarnya dia tuh adik kelas SMA-ku, walo ga ketemu. Aku taunya ya di dunia sini, dunia maya. Terus terang walo dia adik kelas, lebih muda, harus kuakui dia banyak memiliki kelebihan dibanding aku. Liat aja sendiri blognya. Anda bisa merasakan kelebihan itu. Tidak hanya kelebihan dalam hal kemampuan, ketrampilan, ato kepintaran. Namun, juga dalam hal kebaikannya; akan terasakan di dalam blognya.
Yaa, hari ini menjadi hari yg baru bagimu, Dhik. Hari yg baru untuk memulai kebaikan2 yg lainnya lagi. Lebih banyak lagi potensi kebaikan yg ada di depanmu daripada sebelumnya. Makin luas medan kebaikan yg bisa engkau lakukan, dibanding ketika engkau sendirian. Walo juga, makin bertambah ujian yg mengiringinya. Namun, smua (ujian) itu tidaklah ada dan terjadi melainkan akan makin meningkatkan kebaikan yg ada padamu, ketika kamu bisa menghadapi & menaklukkannya.
Semoga barakah Allah dilimpahkan bagimu & keluargamu, Dhik. Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khairin.

Kedua, terkait dengan sosok seorang wanita yg tangguh. Dia teman kuliahku dulu. Satu jurusan, satu angkatan. Di sela2 waktunya yg tidak banyak -sebagaimana waktu yg kita miliki juga, sama banyaknya- dia harus pandai2 membagi waktunya untuk berbagai aktivitasnya. Untuk mengurus & mendidik anaknya, melayani suaminya, melakukan kerjaan2 kantornya, aktivitas di yayasannya, dan .. ya, tentunya aktivitas untuk dirinya sendiri jugalah.
Munkin di antara Anda, ada juga yg seperti dia. Anda bisa merasakannya sendiri. Seperti apa repotnya. Seorang ibu, ...yg demikian. Di balik kerepotannya, sungguh kita tau ada kemuliaannya, ketika smuanya bisa dipenuhi hak2nya.

Menghadapi & mendidik anak adalah sesuatu yg lumrah & semestinya dilakukan oleh ibu/orang tua. Tapi, kita juga tau bagaimana sih, kalo kita berhadapan dg mereka? Mereka yg masih punya dunianya sendiri, yg penuh dg imajinasi, yg seringkali belum bisa nyambung dengan logika kita pada saat kita ingin menasihatinya, misalkan. Apalagi kalo jumlahnya tidak hanya satu. Adalah sesuatu yg kerap terjadi, bila mereka rebutan sesuatu mainan ato lainnya. Ya, perlu ketelatenan, peduli, empati.
Demikian pula terhadap suami. Ada kewajiban lain yg mesti ditunaikan, di samping ada hal yg bisa dilakukan dengan saling membantu. Terhadap kerjaan dan aktivitas di luar pun tidak beda. Ada tugas2 yg mesti diselesaikan. Pun, dia tidak boleh melupakan kebutuhan dirinya. Apalagi dengan kegiatannya yg tidak sedikit. Dia perlu menjaga kondisinya. Dia perlu mendidik dirinya, agar terus bertambah pengetahuannya. Agar dia tetap bisa memberikan kebaikannya kepada yg lainnya.

Pada hari ini, wanita itu, teman kuliahku dulu, telah bertambah satu tahun usianya. Sudah selayaknya aku mengucapkan selamat kepadanya. Terima kasih kepadanya. Apalagi dia adalah pasanganku. Isteriku. Yg selama ini telah menemaniku, membantuku, melahirkan dan mendidik anak2, dengan segala lika-likunya.
Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga sisa umur yg ada, Allah karuniakan keberkahan sehingga akan membuahkan banyak lagi manfaat. Manfaat untuk anak, manfaat untuk kita, manfaat untuk orang lain, juga manfaat untukmu.

Zuzazu juga ngucapin selamat untuk Umi. "Selamat ulang tahun, Umi ya. Semoga Umi tambah sabar menghadapi kreativitas kami", hehehehehe :D Abang Zufar berharap dapat adik perempuan; Mas Zahron minta adik laki lagi; hmm... Zuhair..?? :))

Friday, June 29, 2007

Persimpangan Jalan

Perjalanan menuju ke kantor dari rumahku setidaknya akan menemui 3 ‘lampu merah’, jika melewati rute Sepinggan-Gunung Bakaran-Dam-Pasar Baru-Gunung Sari. Bila melalui rute Sepinggan-Korpri-Ring Road-MT Haryono-Dam-Pasar Baru-Gunung Sari, akan ada 4 ‘lampu merah’; juga kalo melalui Sepinggan- Korpri-Ring Road-Balikpapan Baru-Gunung Guntur-Gunung Sari.
Selain lampu merah tadi, masih akan ditemui adanya persimpangan-persimpangan lain. Buatku, aku dah tau harus memilih belokan yg mana tiap kali menemui persimpangan-persimpangan itu. Termasuk memilih rute mana yg mesti kulalui ketika aku –misalkan– harus sekalian mengantar anakku yg masih TK, ato ketika aku berangkat sendiri tanpa harus mengantarnya. Tentu aku ga bingung lagi karena dah biasa. Dan menjadi semacam rutinitas.
Sebenarnya, tiap kali kita menemui persimpangan maka di situ ada pilihan sesuai jumlah belokan simpangannya. Dan ketika menemuinya kita diharuskan memilih arah mana yg akan kita tempuh untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

*ada lagu/nasyid Di Persimpangan Jalan Aku Berdiri punya edCoustic di sini*

Kehidupan ini kurang lebih seperti perjalanan di atas. Senantiasa ada persimpangan di dalam kehidupan dalam wujud berbagai persoalan. Dan kita mesti memutuskan, alternatif pilihan mana yg diambil. Kadang alternatif-alternatif itu gampang kita pilih. Kadang tidak gampang juga. Variatif. Bahkan, bisa jadi ada yg sampe membuat kita pusing, stress, sebagaimana pengibaratan yang sering kita dengar ‘bagai makan buah simalakama’.
Dan kita sama2 mafhum bahwa tiap pilihan ada resikonya. Ada konsekuensinya. Semudah ato sesulit apa pun pilihan itu. Sesungguhnya hal ini sederhana. Ketika persimpangan itu ada di hadapan kita, kita tinggal milih alternatif yg mana yg akan kita ambil. Sudah. Selesai. Sederhana bukan?

Ternyata, walo sederhana, pada praktiknya sering kali ga segampang itu. Kita sering merasa dihadapkan pada pilihan2 sulit, yang sama2 bagus ato sama2 buruk, sehingga bingung mengambil keputusannya.
Di ruang/rubrik2 konsultasi kita akan banyak mendengar orang2 yang demikian, kebingungan dan kesulitan terhadap masalah yang dihadapinya; mesti berbuat apa? Sebagai contoh, bisa dilihat di klinik bisnis eramuslim ini, yang sering aku kunjungi.

Salah satu contoh yang lain, bisa aku ceritakan di sini, yang kudengar dr seorang Khatib Jumat. Di sini sekaligus kita akan tau bagaimana seseorang ketika memberi saran dan masukan terhadap orang yang lagi punya masalah.
Sang Khatib tadi mengisahkan bahwa dirinya pernah (transit) di Qatar dalam rangka mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk korban penyerangan AS di Iraq. Di Qatar –bersama seorang teman dari Malaysia– dia bertemu dengan para buruh Indonesia/TKI. Biasa, dalam pertemuan seperti itu, setelah sesi dialog, para TKI banyak menyampaikan permasalahan dan keluhannya. Yang paling banyak adalah perlakuan yang ga adil dari majikan mereka. Sang Khatib yang dari Indonesia tadi memberikan nasehat yang umum, yang biasa kita sampaikan kepada orang2 yang memang lagi ga berdaya. Beliau menyarankan untuk bersabar, insya Allah akan ada gantinya yang lebih baik dari Allah nantinya. Apa lagi ini kan di negeri orang, yang kita banyak keterbatasannya. Nasehat ini sebenarnya ga kliru. Tapi, kata beliau sendiri, ternyata nasehat ini (terlalu) biasa-biasa saja. Karena ketika temannya yang dari Malaysia itu ganti memberikan masukan, apa yang disampaikannya? “Tuan-tuan, Anda di sini sudah cukup lama. Dan hal yang Tuan-Tuan hadapi, juga bukan hal yang terlalu baru lagi. Sesungguhnya apa yang akan Tuan-Tuan alami dan rasakan, sangat tergantung pada Tuan-Tuan sendiri. Kalo Tuan-Tuan memang hanya berdiam diri, menerima saja hal itu terjadi, maka Tuan-Tuan tetap akan seperti ini kondisinya. Dan itu harus Tuan-Tuan terima. Karena itu yang menjadi pilihannya. Kalo Tuan-Tuan menghendaki ada perubahan, maka Tuan-Tuan mesti mau melakukan sesuatu. Apakah itu, Tuan-Tuan harus bilang kepada majikan, ato bahkan protes. Ato yang laennya. Agar kondisi Tuan-Tuan bisa berubah.” Kurang lebih seperti itu nasehat orang Malaysia tadi.
Cerita laen, bisa diliat di sini, dari Andrie Wongso.

Sekali lagi, sesungguhnya kita hanya tinggal memilih saja. Dari yang kuamati, dan aku alami, kita sering kesulitan dalam memilih, sering kali disebabkan oleh diri kita sendiri. Walo kita telah bertanya dan konsultasi kepada orang lain, dan telah diberikan jawaban (alternatif-alternatif yang bisa kita pilih), namun tetap saja kita masih kesulitan mengambil keputusan. Kesulitan itu menurutku bermuara pada : ketidakjelasan visi/tujuan kita, dan kita tidak siap (tidak mau) menghadapi resiko/konsekuensi yang ada dari setiap pilihan.
Bagi orang yang selalu mau enaknya aja, ga siap dengan resiko yang memang adanya bermacam2 (pilih2 resiko, yang gampang aja), ga mau melakukan usaha, dan ga mau berkorban, akan lebih sering menemui masalah –yang bagi orang lain sangat munkin itu adalah hal yang biasa-biasa saja, bukan masalah yang berat.
Aku tidak memungkiri ada faktor laen di luar diri kita, yang bisa turut mempersulit pilihan yang akan kita ambil. Namun, diri kita sendiri tetaplah menjadi penentu atas jalan keluar yang akan kita lakukan. Termasuk ketika ada jalan keluar yang ga terduga yang diberikan Allah kepada kita, itu pun –kasarannya, nih– tetap tergantung pada diri kita; tergantung investasi kebaikan yang telah kita lakukan, tergantung ketaatan kita pada-Nya.

*gambarnya dr sini*

Friday, June 22, 2007

Tahukah Anda (1)

‘Buku’ yg Amat Menakjubkan

Sebuah buku yg isinya banyak memberi manfaat. Memberi informasi, pengetahuan, memberi hikmah, memberi inspirasi untuk berbuat dan berkarya.
Munkin buku yg semacam itu banyak didapatkan. Dan sudah semestinya seperti itu, adanya sebuah buku.

Ini laen. Beda. Sebuah buku yg sering dikaji. Dan selalu dikaji, serta akan terus ditelaah. Berulang-ulang. Tidak habis ilmu/manfaat yg diperoleh darinya. Senantiasa ada hal baru yg didapat ketika membacanya kembali.
Semua (bidang) ilmu terangkum dan cocok dengannya. Dari sosialnya, politik, ekonomi, budaya, ideology, keamanan/pertahanan, sains, sampai hal kenegaraan. Menjelaskan masalah yg lalu. Menjadi bukti pada masa sekarang. Sebagai pegangan untuk rencana ke depan.

Banyak orang yg tersadar akan hidupnya, bangkit dari kejatuhannya, kembali dari jalannya yg sebelumnya menyimpang, insaf dari kesalahannya, setelah berinteraksi dengan buku ini. Terkadang hanya karena (setelah) mendengar suara orang yg membaca buku ini; dari orang yg membaca dengan kejujurannya. Terkadang, itu terjadi ketika dia membacanya sendiri, dengan hati beningnya.

Makin menakjubkan lagi, ketika (ternyata) tidak sedikit orang yg mau menghafal buku ini. Tidak sekadar menghafal hanya tau isinya. Benar-benar menghafal. Sampai-sampai pada titik komanya. Tidak ada yg terlewat sedikit pun. Hingga mereka akan tau, ketika ada orang yg keliru dalam membaca tulisan buku ini.
Orang-orang (yg menghafal) ini bukanlah orang gila. Hanya karena menghafal sebuah buku. Menghafal persis sama sekali. Pleg. Ga kurang ga lebih. Mereka bukanlah orang yg gila, yg kurang kerjaan. Buku ini memang menakjubkan. Bagi orang yg menghafalnya (dan menjaganya), akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan manfaat lainnya. Tidak ada buku lain yg seperti ini, yg membuat orang mau menghafalnya, seluruh isinya.

Kita semua sebenarnya sudah ngga asing dengan buku ini. Al-Quran. Ya inilah ‘buku’ yg dimaksud. ‘Buku’ yg amat menakjubkan. Yg banyak manfaatnya, bermutu, terjamin kualitasnya. Hanya sayang, banyak dari kita yg melalaikannya.
‘Buku’ yg amat menakjubkan. Yg jarang ato ga pernah disebut buku (dlm bahasa kita, Indonesia).

Dzaalikal kitaabu laa roiba fiih... itulah al-kitab (Al-Quran), tidak keraguan padanya...

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk dzikir (pelajaran / diingat), maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al-Qamar: 17]

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [Al-Hijr: 15]