Tuesday, January 13, 2009

Mengapa Kita Tidak Perlu Mendukung Palestina [dan Bantahnnaya]

tulisannya mas Akmal, nih

Bagus buat pengetahuan dan pemahaman kita tentang konflik Palestina


* * *


Mengapa Kita Tidak Perlu Mendukung Palestina (dan Bantahannya)



assalaamu’alaikum wr. wb.

Konflik di Jalur Gaza belakangan ini memunculkan wacana yang sangat menarik. Barangkali baru sekaranglah orang-orang bisa mengungkapkan pendapatnya secara lugas, bahkan dengan resiko dikucilkan dari pergaulan sesama Muslim. Di Indonesia, sebagian umat Muslim pun tidak canggung untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usaha-usaha mendukung Palestina. Artikel ini insya Allah akan membantahnya dengan cara sebaik mungkin.


Hak Historis Bangsa Yahudi


Ini adalah argumen ‘standar’ untuk membenarkan pendirian negara Israel. Bangsa Yahudi senantiasa mengklaim bahwa mereka berhak atas tanah Palestina. Konon, mereka sudah tinggal di negeri itu sejak jamannya Nabi Ya’qub as.

Argumen ini sebenarnya sangat lemah, karena pada jaman Nabi Ya’qub as., agama Yahudi belum lagi ada. Bani Israil adalah nama yang diberikan kepada keturunan beliau, namun nama itu baru dikenal setelah masa kehidupannya. Tambahan lagi, Nabi Ya’qub as. dan keluarganya bermigrasi ke Mesir secara sukarela saat Nabi Yusuf as. menjadi bendahara negara pada masa itu. Karena mereka pindah secara sukarela, maka tanah asalnya tentu tak bisa diklaim lagi. Lagipula, kalau yang diklaim adalah peninggalan Nabi Ya’qub as., maka umat Islam akan merasa lebih berhak, karena di dalam ajaran Islam, pertalian aqidah lebih kental daripada hubungan darah.

Klaim ‘kepemilikan’ bangsa Yahudi juga tidak jelas. Andaikan bangsa Yahudi memang pernah tinggal di sana, maka mereka bukanlah satu-satunya penghuni negeri itu. Bangsa Romawi dan bangsa asli Palestina pun sudah tinggal di sana sejak lama. Jika tidak ada hitam di atas putih, maka bangsa Yahudi tak boleh mengklaim tanah (apalagi seluas satu negara) sebagai miliknya sendiri. Tambahan lagi, jika bangsa Yahudi mengklaim tanah Palestina atas dasar sejarah, maka benua Australia dan Amerika pun mesti dikembalikan ke pemilik sahnya, yaitu bangsa Aborigin dan Indian.


Tanah yang Dijanjikan


Kaum Zionis mengklaim bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan kepada mereka, dan klaim ini juga sering didukung oleh umat Nasrani. Namun memaksakan klaim ini adalah sebuah tindakan pemaksaan agama, karena yang setuju hanyalah umat Yahudi dan Nasrani. Kalau boleh menguasai suatu wilayah hanya dengan modal ‘janji Tuhan’, maka umat Islam bisa mengklaim seluruh Bumi, karena Allah SWT telah mengangkat mereka sebagai khalifah fi al-‘ardh. Tentu saja, kalau umat Islam mengklaim sebuah kota saja dengan alasan demikian, maka pasti akan muncul label fundamentalis, radikalis, teroris, atau literalis.


Bangsa Tanpa Negeri


Ada juga yang bersikap lebih ‘humanitarian’ dengan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II terpaksa lari ke tanah Palestina karena didesak oleh NAZI di Eropa. Namun kini beredar teori konspirasi antara NAZI dan kaum Yahudi Zionis. Konon, kaum Yahudi yang pro-Zionisme (yang ketika itu masih minoritas) bekerjasama dengan NAZI untuk membantai saudaranya sendiri, agar mereka mau diyakinkan untuk pindah ke ‘tanah yang dijanjikan’. Namun dengan mengabaikan teori konspirasi ini, argumennya masih saja lemah.

Orang yang lari karena negerinya dilanda konflik adalah pengungsi. Atas nama kemanusiaan, umat Islam pasti akan menerima warga pengungsi dengan tangan terbuka. Sebuah Masjid di Perancis dikenal telah memberikan perlindungan kepada warga Yahudi pada Perang Dunia II, dan masih banyak contoh lainnya. Jika statusnya adalah pengungsi, insya Allah Palestina akan menerima dengan tangan terbuka (walau perlu dipertanyakan : apa iya tidak ada negara lain yang lebih dekat untuk tempat berlabuhnya para pengungsi?). Tapi layaknya pengungsi yang baik, setelah negerinya damai kembali, hendaknyalah kembali ke rumah masing-masing. Dalam kasus Palestina, ‘para pengungsi’ malah semakin kurang ajar, menembaki warga tuan rumah, dan berusaha mendirikan negara di dalam negara. Karena itu, kita tidak perlu lagi memandang kaum Zionis dengan pandangan penuh iba sebagai pengungsi yang tak punya tanah air. Eropa dan AS membuka pintu lebar-lebar kepada mereka, mengapa harus di Palestina?


Perang Antar Negara, Bukan Agama


Kalau dikatakan perang antar agama (yaitu antara Islam dan Yahudi), nampaknya memang tidak. Rasulullah saw. sendiri tak pernah mengobarkan perang dengan umat Yahudi secara keseluruhan. Umat Yahudi pun terbelah dua dalam menyikapi Zionisme Internasional ; ada yang pro dan ada yang kontra.

Namun sebutan ‘perang antar negara’ pun sangat ceroboh, karena statement ini mesti didahului dengan pengakuan terhadap Israel sebagai sebuah negara yang sah. Padahal, kasus yang terjadi adalah penjajahan Palestina oleh Inggris, kemudian Inggris secara sepihak memberikan sebidang tanah kepada kaum Zionis. Kaum Zionis kemudian menerima bantuan dari berbagai negara, termasuk senjata, kemudian mulai mengobarkan peperangan dengan Palestina. Inilah fakta yang dengan susah payah berusaha dikaburkan oleh sebagian pihak.

Bagaimanapun, jika dikatakan bahwa ini adalah perangnya warga Palestina, dan bukan perangnya umat Islam, maka orang yang berkata demikian telah cacat aqidah-nya. Islam tidak mengenal garis perbatasan negara. Selama masih Muslim, maka ia adalah saudara kita ; senasib dan sepenanggungan. Membela umat Muslim yang ditindas adalah kewajiban kita semua, karena Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kita adalah bagaikan satu tubuh. Tidak ada pengecualian. Mereka yang tidak ‘gerah’ menyaksikan penderitaan umat Islam di Palestina sebaiknya mulai mengkhawatirkan kondisi keimanannya sendiri, kalau-kalau dalam waktu dekat akan dipanggil Allah SWT.


HAMAS yang Memulai


Sebagian orang berkata bahwa HAMAS-lah yang merusak gencatan senjata dengan menyerang duluan. Cukup mengherankan melihat betapa banyak orang menggarisbawahi ‘pelanggaran gencatan senjata’ kali ini (andaikan memang itu yang terjadi), sementara mereka dulu diam sejuta bahasa ketika kaum Zionis berulang kali melanggar perjanjian. Namun dalam menanggapi masalah apa pun, hendaknya diingat bahwa dalam kasus Palestina yang terjadi adalah pencaplokan wilayah. Tentunya kaum pejuang bebas menyerang penjajah kapan pun mereka bisa. Bangsa Indonesia harusnya tahu betul tentang itu.


Yang Dekat Duluan


Ada juga yang dengan tidak tahu malunya berkata, “Ngapain urus Palestina, mending urus saudara di Indonesia dulu?” Secara prinsip memang benar, yang dekat lebih prioritas untuk diurus. Namun menentukan prioritas bukan hanya dengan mempertimbangkan faktor jarak. Dalam buku Fikih Prioritas, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi telah memaparkan panjang lebar mengenai hal-hal yang mesti dipertimbangkan sebelum menentukan skala prioritas. Misalnya, jika ada tetangga yang miskin, tentu ia lebih berhak untuk kita sedekahi. Akan tetapi jika ada warga di kota lain yang terancam nyawanya, sementara tetangga kita bisa menunggu sebentar, maka tentu yang lebih gawat urusannyalah yang harus didahulukan.

Kontradiksinya akan kelihatan jelas di lapangan. Mereka yang menggunakan pernyataan di atas biasanya hanya menghindar dari kewajiban. Mereka bilang lebih baik mengurus yang dekat, padahal yang dekat pun tak pernah mereka urusi. Dalam acara debat di sebuah stasiun televisi, sangat menggelikan melihat sebuah parpol menyuruh parpol lain agar jangan fokus ke Palestina, dan lebih baik mengurusi warga Indonesia dahulu. Padahal parpol yang dikritiknya itu adalah parpol yang paling rajin menggelar aksi sosial, baik untuk urusan umat di dalam negeri maupun umat di luar negeri. Parpol yang mengkritik justru jarang kelihatan aksinya ; di dalam dan di luar negeri. Demikian pula jika ada orang yang menggunakan argumen serupa, sebaiknya dikembalikan pada mereka : “Apa yang sudah antum perbuat untuk saudara-saudara antum di dalam negeri?”. Faktanya, dalam hal aksi sosial, yang terjadi adalah 4L (lu lagi, lu lagi). Yang mengurusi musibah di Aceh, Sidoarjo, dan Palestina, biasanya yang itu-itu juga orangnya. Dan yang bermalas-malasan dan mengajukan seribu pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa biasanya juga yang itu-itu saja.


Eksploitasi Isu Untuk Kampanye


Sebenarnya ketimbang mempertanyakan mengapa demo mendukung Palestina yang diadakan oleh PKS 2 Januari yang lalu itu banyak menggunakan atribut PKS, lebih baik mempertanyakan kemana perginya parpol-parpol lain yang kocek-nya jauh lebih tebal? Parpol-parpol yang sanggup pasang iklan di televisi dengan durasi dan pengulangan yang sangat banyak di prime-time seharusnya merasa malu dengan kecilnya sumbangan mereka dalam masalah Palestina.

Melarang atribut parpol untuk digunakan dalam kampanye mendukung Palestina pun cenderung tidak masuk akal. Atribut adalah identitas, dan fungsinya untuk membedakan. Memang perlu menunjukkan siapa yang berdemonstrasi, karena berjamaah selalu memiliki kekuatan politis yang lebih kuat daripada bergerak sendiri-sendiri. Dengan menggunakan atributnya, para kader PKS seolah mengatakan, “Hei, di Indonesia ada sebuah partai besar yang tidak rela dengan kelakuan Zionis! Jangan main-main!”. Statement itu bertambah kuat dengan munculnya kesan solid yang ditampilkan oleh para pendemo. Jika seluruh parpol, lembaga dakwah, harakah, dan ormas lainnya mau berdemo dengan atributnya masing-masing, maka alangkah dahsyat kesan yang ditimbulkannya di media massa. Lain dengan demonstrasi yang dihadiri oleh para demonstran bayaran, yang entah datang dari mana, entah dari organisasi apa, entah pakai atribut apa, dan entah bagaimana akhlaq-nya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Thursday, January 1, 2009

Hari Gini Menghafal Al-Quran?

Tidak ada yg mengingkari kebenaran Al-Quran dan isinya.
Tidak ada pula yg mengingkari keutamaannya, termasuk keutamaan dekat dengannya.

Banyak yg pengin bisa menghafalnya.
Tapi banyak pula alasan yg akhirnya "menghalangi" untuk tidak merealisasikan keinginan menghafalnya itu.
Keinginan tinggallah keinginan. Telah tertulis panjang daftar alasan untuk tidak mewujudkan keinginan itu.

Pengalaman di bawah ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi buat kita..

* * *


ADAKAH SOSOK PENGHAFAL SAAT INI YANG SUPER SIBUK??


Pertanyaan

Assalamu 'alaikum wr.wb

Mudah2an ALLAH MEMUDAHKAN URUSAN ANTUM. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Banyak sekali buku tentang tips bagaimana menghafal al quran dan sejenisnya. Namun diantara yang sudah tersebar, saya belum menemukan sosok penghafal yang baru sadar untuk mulai menghafal al quran ketika usia sudah tidak lagi muda, bukan hanya usia namun aktivitas yang begitu padat ditambah lagi urusan keluarga yang menyita waktu dan tenaga. Yang ada hanya sosok-sosok hafidz yang berhasil menghafal ketika di pesantren dan lembaga sejenisnya, ketika usia masih fresh-freshnya dan tentu saja belum berkeluarga. Bagi kami, wajar jika mereka bisa menghafal alquran, namun bagi kami sangat sulit menduplikasikan kesukesan mereka karena kondisi yang jauh berbeda. Bukankah untuk meraih kesuksesan akan sebuah cita2, kita harus mengikuti langkah orang2 yang sudah sukses lebih awal. Untuk itu kami mohon kepada ustadz, untuk menceritakan atau membagi informasi kepada kami mengenai orang2 yang sibuk,sudah berkeluarga tapi diberikan kesempatan menghafal Alquran. Terima kasih

Wassalam

Anto


Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Subhanallah, saya doakan semoga Allah SWT memudahkan segala urusan bapak, terutama tekad bapak yang mulai tumbuh dalam menggapai cita-cita seperti para 'senoir' Bapak yang telah hafal Al-Qur'an.
Saya ingin mengajak Bapak untuk bersama-sama merenungi Firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar, surat ke-54 ayat 17, 22, 32 dan 40.

"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk diingat, maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran?".

Di sini secara jelas Allah SWT menjamin bahwa belajar dan menghafal Al-Qur'an adalah pekerjaan yang sangat mudah. Ayat ini berulangan sampai empat kali, ini adalah sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur'an mudah dipelajari, difahami, dihafal bahkan Al-Qur'an mudah diamalkan.
Memang selama ini banyak saudara-saudara kita yang berhasil mengahafal Al-Qur'an sampai 30 juz, kebanyakan dari mereka melakukan aktifitas menghafalnya di pesantren Tahfizh Al-Qur'an, umur masih muda, tidak disibuki dengan urusan keluarga. Singkat kata, mereka berkonsentrasi penuh di sebuah tempat khusus menghafal Al-Qur'an.
Memang sekarang ini anggapan kita bahwa menghafal Al-Qur'an hanya bisa di lakukan di pesantren Tahfizh Al-Qur'an dan lembaga sejenisnya, yah ini tidak bisa dipungkiri. Tapi Alhamdulillah kemudahan menghafal Al-Qur'an ternya Allah SWT berikan kepada banyak saudara-saudara kita yang selama ini barangkali tidak banyak kita ketahui. Alhamdulillah walupun memiliki kesibukan yang tidak sedikit namun banyak saudara-saudara kita mampu untuk menghafal Al-Qur'an bahkan diantara mereka telah selesai 30 juz.


Super sibuk bisa menghafal Al-Quran

Saya ingin bercerita sedikit tentang sebagian orang yang selama ini saya ketahui disibuki oleh keluarga, pekerjaan dan aktifitas lainnya bahkan umur juga sudah tidak lagi muda, namun mereka bisa melakukan apa yang dilakukan oleh para pengahafal Al-Quran di pesantren. Insya Allah, kisah orang-orang mulia berikut ini akan dapat memberikan inspirasi dan semangat baru bagi kita yang selama ini menghadapi kesulitan dalam melestarikan kitabullah, terutama dalam bentuk hafalan :

Pertama :
Sebut saja Fatimah (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah Condet Bale Kambang Jakarta Timur ini, yang sejak lama sadar akan mulianya menghafal Al-Qur'an ini, mulai menjalankan aktifitas belajar tahsin tilawah (memperbaiki bacaan Al-Qur'an) di sebuah lembaga Al-Quran (pulang pergi, tidak mondok dan kegiatan belajar dan mengajarnya tidak setiap hari). Saat ini umur sang ibu tidak lebih dari 56 tahun. sejak 5 tahunan lalu beliau mulai mempelajari tahsin tilawah dengan bimbingan seorang guru tahfizh Al-Qur'an, setelah mendapatkan lampu hijau dari sang pembimbing, mulailah dia menghafal Al-Qur'an. Sebagai seorang ibu rumah tangga tentunya ibu Fatimah ini banyak disibuki oleh pekerjaan rumah secara rutin setiap hari. Namun atas izin Allah SWT,setelah lima tahun beliau berjuang untuk menghafalkan Al-Qur'an, akhirnya berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur'an seluruhnya, 30 juz.. Tentu ini semua tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki tekad yang kuat dalam mencapai cita-citanya untuk menghafal Al-Quran. Apalagi dengan memiliki 1001 alasan yang telah dikantonginya untuk tidak bisa menyisihkan dan mengkhususkan waktu untuk belajar dan mengafal Al-Qur'an.


Kedua :
Bu Maryam Ramayani, ibu rumah tangga asal Sumatra Barat kini telah tiga tahun lalu telah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz.. Beliau mulai menghafal Al-Quran pada umur 33 tahun. Alhamdulillah, dengan bimbingan seorang Ustadz yang hafal Al-Quran 30 juz, ibu dari dua orang anak ini mampu mengikuti jejak para penghafal Al-Quran. Di samping sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengurusi suami dan kedua anaknya, senin sampai jumat beliau juga terlibat aktif dalam perkuliahan di sebuah Sekolah Tinggi Islam di bilangan Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Selain aktif dalam kegiatan dakwah, sang ibu saat menghafal Al-Quran juga aktif mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak di Komplek DPR RI Kali Bata Jakarta Selatan. Karena dengan mengajarkan Al-Quran sambil menghafal akan terasa lebih mudah dan banyak keberkahan, sehingga atas pertolongan Allah SWT dalam waktu yang cukup singkat sekitar 3,5 tahun untuk ukuran orang sibuk, alhamdulillah Ibu Maryam mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz.. Salah satu upaya yang telah dijalankan dalam menghafal Al-Quran di sela-sela kesibukannya, beliau menghafalkan dengan bantuan Mushaf Al-Quran terjemahan; karena dengan bantuan terjemahan ini akan memberikan pemahaman akan ayat atau surat yang akan dihafal dan juga lebih mudah untuk selalu diingat.


Ketiga :
Pak DDD 43 tahun, Kebetulan dia tetangga saya di jatimakmur Pondok Gede Bekasi. Sejak tahun 90an beliau mulai menghafal Al-Qur'an surat-surat pendek kemudian dilanjutkan dengan surat-surat yang agak panjang. Bapak dari 9 anak bekerja sabagai peneliti di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) kini telah menghafal Al-Qur'an tidak kurang dari 9 juz. Beliau memiliki konsistensi yang baik, komitmen dengan waktu dalam menghafal Al-Qur'an walaupun dengan kesibukannya yang tidak sedikit. Sebagai seorang aktifis dakwah beliau tidak lupa membekali dirinya dengan bekal ilmu agama, diantara dengan menghafal Al-Qur'an. Tidak lepas dari diri beliau sebuah mushaf mini yang selalu ada di saku bajunya, sehingga bila ada waktu luang maka tidak dilewatkan begitu saja melainkan diisinya dengan kegiatan menghafal Al-Qur'an.
Bila dalam perjalanan, seringkali beliau menggunakan walkman untuk selalu mendegarkan murottal Al-Qur'an. Karena dengan banyak mendengarkan murottal Al-Quran, pasti proses menghafal akan terasa lebih mudah. Memang untuk menghafalkan Al-Qur'an ini beliau agak 'memaksakan' dirinya, karena kalau tidak mana bisa orang sesibuk beliau yang sedang menyelesaikan program S3nya di Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki hafalan yang tidak sedikit ini mampu sekian banyak juz dalam Al-Quran. Terlebih beliau harus selalu mendidik anak-anaknya yang yang jumlahnya hampir selusin. Anak pertama beliau yang kini telah bergelar sarjana S1 di IPB sejak lama telah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz. Anak ke-2, 3, 4 dan ke-5 sudah hafal mulai dari 3 juz sampai 20 juz lebih. Jadi sepertinya bapak yang rambutnya sudah mulai memutih ini ingin sekali anak-anaknya menjadi para penghafal Al-Quran, sehingga tercipta sebuah rumah yang berpenghuni para penghafal Al-Quran, oh alangkah indahnya.


Tidak bisa menghafal tapi mampu membantu menghafal

Alhamdulillah, sejak 3 tahun silam saya dan kawan-kawan mendapatkan amanah mulia dan juga beban yang begitu besar dalam pengelolaan sebuah lembaga yang mengurusi anak-anak dan pelajar untuk menghafal Al-Quran 30 juz. Saat ini ada sekitar tujuh puluhan santri sedang aktif dalam kegiatan menghafal Al-Quran di lembaga ini yang kami beri nama Lembaga Pendidikan Tahfizhul Quran (LPTQ) AL-UMM yang berada di bawah naungan Yayasan Istiqomah bina Umat, yang berkantor pusat di Jatimakmur Pondok Gede Bekasi.

Santri kami yang berjumlah 70an ini tersebar di beberapa wilayah di Jakarta Utara dan Bekasi. Kami menggunakan istilah Cluster untuk setiap wilayah yang terdapat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) santri. Alhamdulillah sampai saat ini 8 orang ustadz yang terlibat dalam KBM semuanya hafal Al-Quran 30 juz. KBM di LPTQ AL-UMM hanya tiga hari dalam satu pekan, atau 10 jam. Santri tetap tinggal bersama keluarga di rumah dan tidak mondok.

Alhamdulillah ada salah seorang santri kami yang baru bergabung 1 tahun sudah mampu menghafal 10 juz, dan santri lainnyatelah hafal antara 3 sampai 8 juz. Pendidikan di LPTQ AL-UMM gratis 100 % dan berbeasiswa 100 ribu setiap bulannya untuk mereka yang mencapai target 1/2 juz per-bulan. Dari mana sumber dananya?, di sini Allah SWT menggerakan tangan manusia-manusia mulia untuk menyisihkan sebagian rizki mereka untuk sebuah cita-cita mulia ini. Lebih lengkapnya silahkan berkunjung ke www.al-umm.net

Juga sejak Februari 2008 lalu saya dan kawan-kawan para penghafal Al-Quran telah mendirikan sebuah Lembaga untuk mendukung pembinaan para guru Al-Quran, yang salah satu programnya adalah mengajarkan masyarakat baca tulis Al-Quran, menghafal bahkan sampai pada tingkat mampu mengajarkankan tafsir Al-Quran sehingga ke depan mampu pula untuk mengamalkannya.

Alhadulillah kini telah bergabung bersama Lembaga kami yang baru ini, yang kami beri nama MUNTADA AHLIL QURAN (THE QURANIC QOMMUNITY FORUM) sekitar 30 Ustadz dan ustadzah penghafal Al-Quran, 15 di antara mereka hafal 30 juz, dan 5 orang telah memiliki sanad sampai ke Rasulullah SAW.

Ada banyak kawan-kawan saya yang ingin sekali menghafal Al-Quran namun karena banyak kesibukan dan lain sebagainya, akhirnya di antara mereka ada yang mengatakan walau saya tidak mampu menghafalkan Al-Quran, tetapi saya bisa membantu ustadz dalam hal pendanaan, alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar. kawan yang lain yang juga tidak mampu terlibat dalam menghafalkan Al-Quran, tetapi dengan ikhlasnya mereka dapat membantu kami dalam pengadaan komputer, pembuatan web site dan lain sebagainya. Mudah-mudahan awal bula November 2008 nanti web site MUNTADA AHLIL QURAN (THE QURANIC QOMMUNITY FORUM) : www.muntadaquran.net, sudah bisa diakses.

Oleh karenanya kami mengajak saudara-saudara semua, khususnya para pengunjung www.warnaislam.com, dan kaum muslimin para pencinta Al-Quran pada umumnya untuk berinvestasi amal shalih melalui LPTQ AL-UMM maupun MUNTADA AHLIL QURAN (THE QURANIC QOMMUNITY FORUM) . Walaupun kita tidak mampu menghafalkan Al-Quran, tetapi kita mampu menbantu mewujudkan cita-cita mulia ini, semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita semua dan menerima semua amal ibadah kita dan menjadikannya sebagai pemberat amal shalih kita di akhirat kelak dan akhirnya kita dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin

Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

* * *
tulisan di atas bersumber dari sini

Tuesday, December 30, 2008

NOTHING IMPOSSIBLE

dari Bang Jay d'terrorist nich.. bisa menginspirasi buat kita semua..

* * *

Ia memiliki pasokan makanan yang cukup untuk lima hari, sebuah Alkitab dan The Pilgrim’s Progress (dua hartanya), sebuah kapak kecil untuk melindungi diri dan selembar selimut lusuh. Dengan barang-barang ini, Legson Kayira bersemangat memulai perjalanan hidupnya. Ia akan berjalan dari desanya di Nyasaland, ke utara menyeberangi padang gurun Afrika Timur ke Cairo, di mana ia akan menumpang sebuah kapal ke Amerika untuk mendapatkan sebuah pendidikan di perguruan tinggi. Ia sama sekali tidak tahu, di mana Amerika!

Ketika itu adalah bulan Oktober 1958. Legson berusia enam belas atau tujuh belas tahun. Orang tuanya tidak berpendidikan dan tidak tahu persis di mana atau seberapa jauhkah Amerika dari tempat mereka tinggal. Dengan enggan mereka memberikan restunya atas perjalanan Legson.

Bagi legson, itu merupakan suatu perjalanan yang berasal dari suatu impian, tidak peduli betapa menyesatkan, yang menguatkan tekadnya untuk mendapatkan suatu pendidikan. Ia ingin seperti pahlawannya, Abraham Lincoln, yang telah bangkit dari kemiskinan untuk berjuang tanpa kenal lelah untuk membantu membebaskan para budak lalu menjadi presiden Amerika. Ia ingin seperti Booker T Washington, yang telah melepaskan diri dari belenggu perbudakan untuk menjadi seorang tokoh reformasi dan pendidikan hebat di Amerika, memberikan harapan dan martabat kepada dirinya sendiri dan kepada rasnya.

Seperti model-model peran yang hebat ini, Legson ingin melayani umat manusia, untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda di dunia. Untuk meralisasikan sasarannya, ia memerlukan suatu pendidikan kelas satu. Ia tahu bahwa tempat terbaik untuk mendapatkannya adalah Amerika.

Lupa bahwa Legson tidak mempunyai uang atas namanya sendiri atau suatu cara untuk membayar ongkos perjalanannya.

Lupa bahwa ia tidak tahu perguruan tinggi apa yang akan ia masuki atau apakah ia akan diterima.

Lupa bahwa Cairo berjarak 3.000 mil dari Amerika dan di antaranya ada ratusan suku yang berbicara lebih dari lima puluh bahasa yang berbeda, yang tidak satupun penduduknya dikenal Legson.

Lupakan semua itu. Legson melupakannya. Ia harus melupakannya. Ia mengesampingkan segala sesuatu dari benaknya kecuali impian untuk sampai ke negeri di mana ia bisa membentuk nasibnya sendiri. Amerika adalah negeri impiannya. Dengan kemampuannya, ia mulai melakukan sesuatu.

Ia tidak selalu memiliki tekad yang kuat. Sebagai seorang pemuda, ia kadang-kadang menggunakan kemiskinannya sebagai suatu alasan untuk tidak berbuat yang terbaik di sekolah atau untuk tidak menyelesaikan sesuatu. Saya hanyalah seorang anak miskin, katanya kepada dirinya sendiri. Apa yang bisa saya lakukan ?

Seperti banyak teman-temannya di desa, mudah bagi Legson untuk meyakini bahwa belajar merupakan suatu pemborosan waktu bagi anak miskin dari kota Karongo di Nyasaland. Lalu dalam buku-buku yang diberikan oleh para misionaris, ia menemukan Abraham lincoln dan Booker T Washington. Kisah-kisah mereka memberikan inspirasi kepadanya untuk memimpikan hal-hal yang lebih besar untuk hidupnya, dan ia menyadari bahwa pendidikan merupakan langkah pertamanya. Jadi ia menciptakan gagasan untuk perjalanannya ke Cairo.

Setelah lima hari penuh menyusuri wilayah Afrika yang sulit, Legson hanya bergerak sejauh 25 mil. Ia sudah kehabisan makanan. Airnya habis, dan ia tidak mempunyai uang. Menyelesaikan perjalanan yang masih 2.975 mil lagi tampak merupakan hal yang mustahil. Namun jika ia kembali berarti ia menyerah, menyerahkan dirinya kepada suatu kehidupan yang penuh kemiskinan. Seumur hidup.

Saya tidak akan berhenti sampai menginjak Amerika, janjinya kepada dirinya sendiri. Atau saya mati dalam usaha saya. Ia terus melangkah maju.

Kadang-kadang ia berjalan bersama-sama orang asing. Kebanyakan ia berjalan sendirian. Ia memasuki setiap desa baru dengan hati-hati, tidak mengetahui apakah penduduk setempat bersifat bermusuhan atau ramah. Kadang-kadang ia menemukan pekerjaan dan tempat berlindung. Seringkali ia harus tidur beratapkan langit. Ia mencari buah-buahan liar dan berry tanaman-tanaman lain yang bisa dimakan. Ia menjadi kurus dan lemah.

Suatu hari ia terserang demam dan ia merasa kondisinya sangat lemah. Orang-orang asing yang baik hati mengobatinya dengan obat-obatan herbal dan menawarinya tempat untuk beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Merasa khawatir dan lemah semangat, Legson mempertimbangkan untuk pulang. Mungkin lebih baik jika ia pulang, demikian pertimbangannya daripada melanjutkan perjalanan yang tampak konyol ini dan mempertaruhkan kehidupannya.

Namun kemudian Legson kembali membuka kedua bukunya, membaca kata-kata yang telah sangat dikenalnya, yang memperbarui semangatnya. Ia meneruskan perjalanannya. Pada tanggal 19 Januari 1960, lima belas bulan setelah ia memulai perjalanannya yang penuh bahaya, ia telah menyeberangi hampir seribu mil ke Kampala, ibukota Uganda. Sekarang badannya bertumbuh semakin kuat dan lebih bijaksana dalam cara-caranya mempertahankan hidup. Ia tinggal di Kampala selama enam bulan, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang aneh dan menghabiskan setiap waktu luangnya di perpustakaan untuk membaca dengan penuh gairah.

Di perpustakaan itu ia menemukan sebuah direktori bergambar yang memuat daftar perguruan-perguruan tinggi Amerika. Secara khusus sebuah gambar menarik perhatiannya. Gambar itu mengilustrasikan sebuah institusi yang megah namun tampak ramah, berdiri di bawah langit biru, dihiasi air mancur dan halaman rumput, dan dikelilingi oleh pegunungan yang megah, yang mengingatkan dia tentang puncak-puncak gunung yang luar biasa di kampung halamannya di Nyasaland.

Skagit Valley College di Mount Vernon, Washington, menjadi gambaran kongkret pertama dalam pencarian Legson yang tampak mustahil. Ia segera menulis ke Dekan sekolah tersebut menjelaskan situasinya dan meminta beasiswa. Takut ia mungkin tidak diterima di Skagit, Legson memutuskan untuk menulis ke sebanyak mungkin perguruan tinggi sesuai dengan dana yang dimilikinya.

Ternyata itu sebenarnya tidak perlu dilakukannya. Dekan di Skagit begitu terkesan dengan tekad Legson sehingga ia tidak hanya menerima Legson, namun juga menawarkan suatu beasiswa dan pekerjaan sehingga ia bisa membayar biaya untuk tempat tinggal.

Satu lagi impian Legson menjadi kenyataan, namun masih banyak rintangan yang menghalangi jalannya. Legson memerlukan sebuah paspor dan visa, namun untuk mendapatkan paspor, ia harus menginformasikan tanggal lahir resminya kepada pemerintah. Lebih buruk lagi, untuk mendapatkan visa ia memerlukan tiket pulang pergi ke Amerika Serikat. Sekali lagi ia mengambil pulpen dan kertas, dan menulis surat kepada para misionaris yang telah mengajarnya sejak kanak-kanak. Mereka membantu pengurusan paspor melalui saluran-saluran kepemerintahan. Akan tetapi Legson tetap belum mempunyai biaya untuk membeli tiket yang dibutuhkan untuk memohon visa.

Tidak berkecil hati, Legson melanjutkan perjalanannya ke Cairo dengan meyakini bahwa entah bagaimana ia akan mendapatkan uang yang diperlukan. Ia begitu percaya diri sehingga ia menggunakan tabungan terakhirnya untuk membeli sepasang sepatu sehingga ia tidak harus berjalan melalui pintu Skagit Valley College dengan bertelanjang kaki.

Bulan demi bulan berlalu, dan berita tentang perjalanannya yang penuh keberanian mulai tersebar. Ada waktu ia sampai di Khartoum, kehabisan uang dan merasa lelah, legenda Legson Kayira telah menyebar melalui lautan antara benua Afrika dan Mount Vernon, Washington. Para mahasiswa di Skagit Valley College, dengan bantuan dari masyarakat lokal, mengirimkan $ 650 untuk menutup ongkos tiket Legson ke Amerika.

Ketika ia mengetahui kemurahan hati mereka, Legson jatuh berlutut dalam kelelahan, sukacita dan rasa syukur. Pada bulan Desember 1960, lebih dari dua tahun setelah perjalanannya dimulai, Legson tiba di Skagit Valley College. Membawa dua bukunya yang berharga, ia dengan bangga melewati pintu masuk yang menjulang tinggi di institusi tersebut.

Namun Legson tidak berhenti ketika ia lulus. Meneruskan perjalanan akademisnya, ia menjadi profesor ilmu politik di Cambridge University di Inggris, dan menjadi penulis yang dihormati di mana-mana.

Seperti para pahlawannya, Abraham Lincoln dan Booker T Washington, Legson Kayira bangkit dari kondisi awalnya yang sangat sederhana dan menciptakan nasibnya sendiri. Ia melakukan suatu yang berbeda di dunia ini dan menjadi sebuah mercusuar yang sinarnya tetap bercahaya sebagai panduan bagi orang lain yang mengikutinya.

Legson Kayira kembali menjadi saksi hidup, bahwa Tuhan hanya bisa mengangguk atas keinginan besar dari seseorang yang berani membayar mahal harga kesuksesannya. Nothing Impossible.

(Unstoppable, Cynthia Kersey)

*

diambil dari sini

Thursday, July 31, 2008

Rindu II

Ini tulisan dr temenku. Temen baik. Dia tulis, lalu dikirim via imel ke aku.
Dia tuh temen sma, temen kuliah juga, .. lalu barusan juga jadi temen satu kantor. Tapi dia dah pindah ke pulau sumatera. Smoga dia sukses deh. Dunia akhirat. Amin.
[sdikit ada editan dariku]

* * *

Rindu ini tak tertahankan lagi
Di sela gemuruh aktivitas dunia
Mendadak ku teringat suatu tempat
Semua sholat menghadapnya.....

Roda ini begitu kencang berputar
Dibebani dengan target duniawi semata
Aku harus bisa.....
Namun tempat nan suci itu terus melintas dalam benakku....


Thursday, July 10, 2008

Rindu I

Rajab telah berkunjung
sebentar lagi Sya'ban menyusul
dan di belakangnya sudah menanti Ramadhan,
tamu agung yg akan menghampiri kita juga

Semoga kita bisa bertemu dengannya
berakrab-akrab dengannya
mengisi waktu-waktunya
belajar & mengambil hikmah padanya

Kebayang, kan..
gimana indahnya suasana ramadhan
orang-orang baik makin bertambah di bulan itu
pula, kebaikan menemukan masa yg kondusif
dan, orang mudah tergerak & berlomba untuk berbuat baik

Ah, andainya smua bulan di satu tahun adalah Ramadhan..
sebagaimana para sahabat punya harap & berkeinginan
:-?


* * *

"Abi / Ummi, kapan ya Ramadhan lagi..
Abang seneng lho, kalo udah Ramadhan"
ungkapan Abang pada Abi & Umminya, suatu hari.
Rasa rindu yg tidak/belum bisa digambarkan dengan kata-katannya yg lebih detil, tidak juga dengan / melalui gambar-gambarnya yg dia memang suka melakukan aktivitas itu.

insya Allah kita sedang menanti kehadirannya
semoga Ramadhan yg kurang dari dua bulan lagi ini adalah Ramadhan yg lebih baik lagi bagi kita dibandingkan yg sebelumnya


Thursday, July 3, 2008

m a n u s i a

Namanya manusia
Keinginan banyak tiada berujung
Sesuai dengan jumlah angka yg ada
Satu didapat, pengin yg berikutnya
Kadang, belum dicapai, sudah berkeinginan yg lainnya lagi

Namanya manusia
Tidak akan lepas dari persoalan
Besar-kecil, rumit-sederhana, tetap saja sama sebagai soal
Setiap soal ada jawabnya
Yakin
Dan manusia tidak sendiri untuk itu

Namanya manusia
Sukses gagal adalah temannya
Bergantian mengiringinya
Mestinya dia akrab dg keduanya, tidak akan (selalu) kaget dg kehadirannya

Namanya manusia
Sekuat apa pun energinya
Sebesar apa pun keinginannya
Sepandai apa pun ilmunya
Sekaya apa pun hartanya
Sekuat apa pun pasukannya
Ia tetaplah manusia
Penuh dg keterbatasan

Namanya manusia
Walau begitu…
Tetap saja, manusia itu selalu unik

Ngga ada habisnya ngomongin tentang dia

Beruntunglah bagi manusia yg bisa mengambil pelajaran & hikmah
Senantiasa bersyukur & bersabar

*samarinda, 3 juli 2008*

Tuesday, July 1, 2008

Belajar dari seorang Meila

Tulisan ini aku ketikkan kembali dari majalah tarbawi edisi 181, 19 juni 08 lalu (dg sedikit 'editing'). Tentang seorang manusia, mahasiswi, yg dalam usianya yg muda bisa banyak berbuat kebaikan, sampai akhir hidupnya. Semoga bisa diambil hikmahnya. Walo tulisannya panjang, semoga bisa dinikmati dg nyaman.


Bagi yg sudah membacanya, smoga bisa menambah ingatan & kesadarannya, juga smoga bisa memberi tau temen yg lainnya akan adanya kisah ini, munkin berguna buat mereka.
Bagi yg belum pernah membacanya, yaa.. silakan membaca ^_^
skalian kasi info, kalo majalah tarbawi ini tmasuk baguslah untuk dibaca, hehe.. Promosi.. :D
Tapi bener qo.. Dia tuh, penuh inspirasi..sesuai slogannya.
Buat temen2 yg ada di Balikpapan, kalo tertarik utk berlangganan..bisa hubungi aku ato melalui toko ini.
:D
Selamat mengambil hikmah..


MENGENANG MEILA
sosok mahasiswi pengabdi dan pejuang

Rofiqo Meila Sari, anak saya yg ketiga dari lima bersaudara, lahir tgl 18 Mei 1987. Pada anak-anak saya itu, saya menyimpan harapan yg sama, yakni mereka mencapai pemahaman agama yg baik dan meningkat terus. Pada anak-anak, saya lebih banyak mencontohkan untuk dekat pada agama melalui perbuatan sehari-hari. Misalnya, dengan melihat orang tuanya shalat malam, shalat dhuha, dan puasa sunah, anak-anak pun akan ingin melakukannya, setelah mengetahui kebaikan di balik ibadah-ibadah itu.

Tapi ternyata yg paling kelihatan amat dekat dg agama adalah Meila, dialah yg rajin dan konsisten melakukan shalat malam, dhuha, puasa Nabi Daud, puasa sunah Senin Kamis, dan lainnya. Di bulan Ramadhan, terutama Ramadhan lalu, dia jarang berada di rumah karena i'tikaf di masjid. Saat saya tanyakan mengapa sampai demikian giat beri'tikaf, dia menjawab bahwa dia ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya kesempatan beribadah di bulan yg penuh keberkahan itu, apalagi kesempatan untuk beribadah di bulan itu akan datang lagi atau tidak, kita kan tidak tahu.

Banyak kebaikan dan keunikan Meila yg saya rasakan. Dg cara yg lembut, sambil meminta maaf, dia dapat berdikusi berbagai hal mendalam, bahkan menasehati saya. Dan saya memperhatikan pendapat-pendapatnya, karena saya melihat kepribadian yg cukup matang dan bertanggung jawab. Terhadap saudara-saudaranya, Meila juga perhatian. Bagi kami, Meila adalah pelita keluarga (terdiam).

Saya bahagia dan hati saya tenang, karena meski dia masih muda, namun saya bisa mempercayainya. Hingga saya lebih banyak berpesan dan mewanti-wanti pada adiknya. Kalau adiknya meminta izin mendatangi suatu tempat, saya banyak berpesan, jangan pulang terlambat, jangan main dulu kalau acara sudah selesai. Kalau dg Meila, saya tidak melakukan itu. Saya mempercayainya dan yakin dg apa-apa yg dia lakukan. Saya mengetahui kepribadian dan akhlaknya sehari-hari.

Ketika membaca buku harian Meila setelah kepergiannya, saya terenyuh. Di buku itu dia mempertanyakan “perbedaan” perlakuan itu. Dia menulis mengapa kalau adiknya pergi selalu dikomentari, sedangkan dia tidak. Rupanya dia mempunyai perasaan lain yg dia tuangkan dalam buku itu. Saya sedih saat membacanya. Saya menangis. Ya Allah, tidak ada maksud seperti itu. Saya berdoa, “Meila, maafkan Mama kalau kamu mempunyai perasaan seperti itu. Tapi itu (Mama lakukan) karena Mama sangat percaya pada Meila.”

Meila itu remaja yg gemar sekali dg kegiatan dakwah. Mushala di samping rumah kami (mushala yg didirikan oleh keluarga) dia juga yg meramaikan. Tiap malam Jumat dia mengajak anak-anak muda untuk pengajian. Bersama teman-temannya, dia mengadakan kursus cara memandikan jenazah, pengobatan gratis dan lainnya.

Dua tahun lalu, di mushala itu dia juga membuka TPA untuk anak balita. Meski di kampusnya (kuliah di Fak. Psikologi UIN Syarif Hidayatullah) dia sibuk ikut Lembaga Dakwah Kampus dan kerap mengadakan kegiatan, tetapi untuk TPA itu dia juga terjun total (TPA itu menampung 30an anak). Saya sempat khawatir dan bertanya apa tidak terlalu lelah. Tapi dia bilang bahwa anak-anak inilah nantinya yg jadi generasi penerus, dan karena mereka masih sangat muda, masih seperti kertas putih, justru merekalah yg sangat perlu diperhatikan.

Terhadap anak kecil, dia memang sayang sekali. Terhadap adiknya, keponakan, anak-anak tetangga, dia perhatian sekali. Terhadap adik-adik tirinya (Azizah menikah kembali th 2007, setelah suaminya wafat enam th lalu), dia sering menanyakan, sudah membuat PR belum, sudah belajar belum, dan lainnya. Kalau pulang kuliah atau pulang dari berbagai kegiatan lain, dia selalu menanyakan adik-adik tirinya. Pada adiknya yg sudah remaja, dia sering menasehati, termasuk menasehati untuk berjilbab. Ketika adiknya kemudian berjilbab, saya menanyakan sebabnya. Selain karena dorongan hati, juga karena ingin mencontoh kakaknya.

Kini adiknya dan seorang teman Meila yg meneruskan mengajar di TPA (tiap hari, sebelum memulai mengajar di TPA pasca kepergian Meila, adiknya mengajak murid-murid untuk berdoa bagi Meila). Memang, di pagi hari saat kepergiannya (Rabu 14 Mei 2008), sebelum berangkat Meila mengatakan kepada adik dan kakaknya di rumah, “Kalau Meila tidak pulang, tolong TPA diteruskan, jangan sampai berhenti ya..kegiatannya.” Saudaranya menduga, maksudnya akan menginap karena sedang sibuk menyiapkan suatu acara. Ternyata dia benar-benar tidak akan pulang (terdiam).

Kepergiannya

Saat Meila berangkat di hari terakhir itu, saya sudah lebih dulu pergi ke sekolah (Azizah mengajar agama di salah satu SD Negeri di Pondok Pinang). Sedangkan Meila biasanya berangkat setelah shalat dhuha dulu di rumah. Sebelum shubuh, salah seorang saudaranya melihat Meila makan sahur. Dugaan saya, hari itu dia sedang berpuasa Nabi Daud.

Kabar yg saya dengar, hari Rabu 14 Mei itu, dg diboncengkan motor oleh teman perempuannya, Meila membawa proposal untuk pencarian dana acara dakwah di kampus hingga ke kawasan Depok. Tapi saya juga mendengar kabar lain, bahwaw dia ke Depok untuk mengajukan lamaran menjadi asisten dosen di Universitas Indonesia. Pagi jam sepuluh itu, motor yg ditumpangi Meila terserempet mobil yg datang dari arah berlawanan. Akibatnya Meila terpental hingga masuk ke bawah mobil (terdiam). Ketika ditemukan, dia sudah meninggal di tempat (terdiam). Sedangkan temannya mengalami luka-luka, dan bersama jenazah Meila, segera dilarikan ke rumah sakit di Depok.

Saat mendengar kabar kecelakaan itu, saya tidak diberi tahu bahwa Meila sudah meninggal di tempat (terdiam). Ketika menuju rumah sakit, saya berujar kepada adik saya yg menyetir mobil, cepat, cepat, saya mau melihat anak saya (terdiam). Tiba di rumah sakit, saya melihat tubuh Meila ditutup kain semuanya, dari kepala sampai kakinya. Saya hanya bisa berdzikir, saya mengucapkan innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji'uun, saya mengingatkan diri saya, bahwa Allah lebih sayang pada anak saya. Saya sangat sayang pada Meila, tapi Allah lebih sayang padanya. Saya harus ikhlas (terdiam). Itulah yg menguatkan saya. Kalau tidak banyak mengingat Allah, entah apa yg jadinya (terdiam).

Saat membuka kain yg menutupi wajahnya, subhanallah, saya melihat matanya tertutup rapat dan wajahnya menghadap ke kanan. Ketika saya memperhatikan tubuhnya, subhanallah, tidak ada darah sama sekali. Jenazah itu bersih. Saya hampir tidak percaya melihatnya, tapi itulah yg terjadi. Ada luka di kakinya yg membuat tulangnya nampak, namun tetap tidak mengeluarkan darah. Polisi lalu lintas yg membawa jenazah Meila juga berujar, baru saat itulah ia menemukan jenazah korban kecelakaan lalu lintas yg tidak ada darah sama sekali di tubuhnya (terdiam).

Sewaktu membuka penutup jenazah, saya merasa ada wangi tertentu, namun saya tidak tahu itu wangi apa (Seorang teman Meila menuliskan dalam catatan kenangan tentang Meila. Menurutnya, di saat kecelakaan terjadi, dalam ruangan kelas tempat Meila biasa melakukan kegiatan, tercium wangi yg tidak dikenali oleh seorang pun di ruangan itu).

Kemudahan2 pengurusan jenazahnya

Banyak kemudahan dalam proses itu. Bahkan polisi yg bertugas saat kecelakaan terjadi, di luar dugaan, adalah tetangga yg memang berprofesi sebagai polisi. Ketika kecelakaan terjadi dan ia mencari tanda keterangan diri dalam tas Meila, ia kager saat membaca alamat Meila. Sehingga kabar pada keluarga pun lebih cepat sampai. Dan polisi itulah yg terus membantu kami, mulai dari pemulangan jenazah Meila dari rumah sakit hingga hal-hal lainnya.

Kemudahan juga terjadi ketika akan memakamkan almarhumah. Saat itu kami diberi tahu bahwa tanah pekuburan di daerah Gandaria adalah tanah yg keras, yg tidak mudah untuk digali. Tiga orang penggali kuburnya mengatakan, makam yg digali di sore hari itu diperkirakan baru akan selesai jam sebelas malam atau lebih karena kondisi tanahnya. Akhirnya kami memutuskan untuk memakamkan alamarhumah esok paginya saja. Namun jam tujuh malam tiba-tiba kami ditelepon. Kata pihak TPU, terjadi keanehan, karena tidak seperti biasanya tanah di sana terasa gembur saat digali. Jadi penggalian itu jam tujuh malam sudah selesai. Kami merasa itu suatu kemudahan yg Allah berikan.

Wasiat

Tanpa kami ketahui, pada tanggal 1 April 2008 Meila ternyata menuliskan wasiat di selembar kertas yg disimpan dalam dompetnya. Di malam hari setelah kecelakaan terjadi, barulah pamannya menemukan surat itu, ketika melihat satu per satu isi tas Meila. Dalam dompetnya, selain ditemukan foto almarhum nenek & ayahnya, juga ditemukan surat itu. Dalam surat wasiat itu tertulis,

“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Jakarta, 1 April 2008 / 24 Rabiul Awwal 1428 H. Saya yg bernama Rofiqo Meila Sari Ber-WASIAT.

  1. Saya ingin merenovasi kuburan Bapak Nurhasan, ayahanda tercintaku dg bunga dan rumput. Serta aku ingin buatkan kaligrafi yg kubuat sendiri.
  2. Meramaikan mushola dg kegiatan-kegiatan bermanfaat.
  3. Barang-barang Meila seperti buku-buku, baju, sepatu, tas, dll yg masih layak pakai untuk diberikan kepada sanak saudara yg membutuhkan (khususnya yg sudah yatim piatu dan fakir miskin), baru untuk orang lain.
  4. Organ-organ atau jasadiyah Meila yg masih/dapat digunakan untuk orang yg membutuhkan tetapi dia harus seorang hamba Allah yg beriman lagi taat.
  5. Kalau seandainya bisa, saya ingin dimakamkan di sebelah makam ayahandaku.
  6. Jika saya memiliki harata lebih, 50%-nya untuk pembangunan masjid, kegiatan-kegiatan dakwah, santunan yatim piatu atau lainnya yg dapat membawa kemaslahatan umat.
  7. Unuk saudara/saudariku tolong sayangi Mama dan saling sayang-menyayangi, komunikatif, watashau bilhaq watashau bishabr.
  8. Tolong kirimkan doa terbaikmu untukku yg telah dahulu.

Salam cinta

Rofiqo Meila Sari”

Membaca surat itu, kami terkesima. Subhanallah, dia tentu tidak mengetahui bahwa sebulan kemudian akan mengalami kejadian itu (terdiam). Namun atas kuasa Allah, dia terdorong untuk menuliskannya. Surat itu juga menunjukkan sifat Meila yg lain, bahwa dia seorang pemaaf. Karena menggunakan kata 'kalau seandainya bisa'. Nampak bahwa dia tidak ingin “memasakkan” keinginannya.

Kami berusaha untuk memenuhi apa yg dalam surat itu. Sebagian besar insya Allah dapat dipenuhi. Namun tidak semuanya dapat terpenuhi. Karena surat itu ditemukan di malam hari, sudah sekian jam dari peristiwa itu terjadi, maka keinginan untuk mendonorkan organ tubuh sudah tidak bisa dilakukan (terdiam). Seorang kerabat mengatakan bahwa organ mata masih dapat didonorkan meski telah berjam-jam kemudian. Namun, ternyata kami kesulitan untuk memenuhi syarat 'harus seorang yg beriman lagi taat'. Kami khawatir syarat itu tidak terpenuhi, maka kami akhirnya memutuskan tidak melakukan pula hal itu.

Banyak kebaikan padanya

Saya terharu sekali karena dia berpesan pada adik dan kakaknya untuk menyayangi saya. Memang sehari-harinya dia sangat sayang pada saya. Segala sesuatunya untuk ibunya (menangis). Ibaratnya tidak apa-apa dia susah, asalkan ibunya bahagia (menangis). Dia kelihatan ingin sekali berbakti sama ibunya (menangis). Sampai mengajar privat di beberapa tempat, dan seluruh pendapatannya diberikan pada saya. Kalau saya menolak dan mengatakan uang itu dipakai saja untuk ongkosnya sehari-hari, dia tidak mau. Dia bilang ingin memberikan uang itu pada saya. Karena tidak tega untuk menolaknya, maka saya terima. Dan tiap hari tetap saya berikan uang untuk transpornya. Begitu inginnya dia memberikan uang, meski dia sendiri tidak punya uang untuk trasport.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, di malam Minggu 10 Mei 2008, Meila bilang pada saya, “Ma, maafin Meila ya, Meila pengin ngomong... Bulan depan Mama tidak perlu lagi memberikan Meila uang jajan. Tapi Meila juga tidak bisa memberikan uang sama Mama. Tapi rejeki insya Allah akan berkah Ma.” Setelah itu dia mencium tangan saya. Saat itu saya menduga dia sudah ada pemasukan tambahan lainnya, dan sudah dapat memenuhi kebutuhannnya sehari-hari. Saya menangis terharu, karena anak saya mempunyai pemikiran ingin meringankan orang tuanya. Saya berpikir, mungkin karena adiknya yg di pesantren akan masuk Madrasah Aliyah dan perlu biaya tambahan, maka dia berusaha mencari tambahan pemasukan, Saya berkata bahwa saya akan mendoakannya (terdiam). Dia menjawab, “Iya Ma, doakan Meila ya...” Setelah itu dia kembali minta maaf (terdiam). Itulah kali terakhir saya berbicara lama dengannya.

Sebagai orang tua, saya merasa kepatuhan, perhatian dan rasa sayang Meila pada saya sangat istimewa. Kalau saya lelah, Meila langsung mengambilkan minum dan memijat kaki saya. Kalau saya belum makan, dia bahkan menawarkan untuk menyuapi saya makan (terdiam). Dia terus membujuk sampai saya mau makan, karena kalau sudah lelah, saya kadang terlupa untuk makan. Karena tidak ingin dia kecewa, kadang saya mau disuapi, dan setelah itu giliran saya yg menyuapi dia makan (tertawa).

Meila juga senang sekali mengerjakan pekerjaan di rumah. Memasak, membersihkan rumah, merapikan taman, sampai membersihkan selokan (terdiam). Beberapa hari sebelum kepergiannya, dia masih membersihkan selokan (terdiam). Meski capek sepulang kuliah, tapi kalau akan mencuci baju, dia selalu mencucikan baju-baju lainnya yg ada di ember. Meski sebenarnya adik dan kakaknya mencuci sendiri baju masing-masing, tapi kalau Meila akan mencuci, maka baju siapa pun akan dia cucikan. Kalau saya katakan jangan dicuci semua, dia cuma bilang, tidak apa-apa Ma, kan sekalian mencuci baju Meila.

Ternyata kebaikannya juga dirasakan oleh lingkungan. Sungguh saya tidak menduga, saat membawa jenazah Meila pulang, sejak di ujung jalan, orang-orang sudah penuh sesak (terdiam). Semua menangisi kepergian dia. Saya sangat terharu (terdiam). Di rumah, tamu-tamu yg bertakziah, teman-teman kuliahnya, teman-teman sekolah, teman sesama penggiat dakwah, guru-gurunya, berdatangan terus, hingga rumah dan jalan penuh sesak. Kata kerabat saya, yg datang hingga ribuan (terdiam). Guru-gurunya juga meminta dg sangat untuk ikut memandikan jenazah. Saat itulah saya mengetahui, betapa banyak yg menyayangi dia (terdiam, suaranya bergetar).

Ternyata bukan di rumah saja Meila bersikap sangat baik pada saya dan keluarga, dan bersemangat kalau untuk persoalan berdakwah di lingkungan, tapi juga di kampus dan tempat-tempat lain. Selain mengajar privat ilmu alam, dia juga memberikan les privat agama. Seorang dosennya bercerita pada saya, sehari sebelum kecelakaan itu, Meila mengajak teman-temannya berkumpul dan menasehati mereka. Saya ingat saya pernah menanyakan mengapa ia aktif sekali di LDK. Saya khawatir ia terlalu lelah dan jatuh sakit. Namun Meila menjawab bahwa di kampusnya, meski berpredikat universitas Islam, namun suasananya tidak banyak berbeda dg kampus lainnya dalam hal keagamaan, hingga dakwah di kampus sangat diperlukan. Dan kalau tidak mengajak berdakwah, bagaimana nanti tanggung jawab di akhirat?

Awal komitmen

Beberapa hari setelah kepergiannya, saya menemukan buku hariannya. Di dalamnya saya membaca janji yg ia buat tiga tahun lalu. Di buku itu tertulis, “Bismillahirrahmanirrahim. 1.Mengajak untuk mengingat Allah swt. 2.Mengajak untuk mengingat dosa-dosa. 3.Mengajak untuk menyayangi orang tua. 4.Mensyukuri nikmat-nikmat Allah. 5.Taubat. Dear diary, tahu nggak ini adalah salah satu konsep yg aku buat pada malam Minggu kemarin, 30 April 2005 untuk muhasabah. Uh..uh..bagaimana ya..aku juga sebenarnya takut karena aku sendiri aja takut nggak bisa menjalankan apa yg aku sudah katakan. Tapi kita tidak boleh menghakimi diri kita “tidak bisa” karena pada dasarnya manusia itu bisa melakukan apa saja. Mudah-mudahan aku bisa menjalankan sunah-sunah Rasulullah di dalam kehidupanku sehari-hari. Amien ya..Rabbal alamin.. Maka dari itu aku bernama Rofiqo Meila Sari, asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah, aku berjanji: 1.Taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. 2.Taat pada orang tua dan guru. 3.Rajin belajar dan giat beramal. 4.Cinta alam dan kasih sayang kepada manusia. 5.Akan selalu menjalankan janji ini. Amien ya Rabbul alamin. Mudah-mudahan Meila bisa menggapai cita-cita Meila, dan dapat membahagiakan orang-orang di sekitarku. Allahu akbar. Jakarta, 2 Mei 2005.”

Sepertinya, memang di sekitar waktu itulah terasa Meila menjadi semakin baik. Kemungkinan besar dia merasa harus melakukan apa yg dia tekadkan. Dalam akhlak sehari-harinya hal itu kemudian sangat nampak. Taqarubnya pada Allah juga sangat meningkat. Kalau sebelumnya dia beribadah belum serajin itu, saya merasa di sekitar waktu itulah, dia melakukan perubahan yg mendalam (terdiam).

Di buku harian itu dia juga menuliskan bahwa dia tidak mau berpacaran. Dia inginnya ta'aruf yg dibenarkan agama. Namun sejak sekitar bulan April, Meila beberapa kali mengatakan pada tantenya bahwa ia ingin menikah di bulan Mei. Pada murid-muridnya yg sering menanyakan kapan ia menikah, Meila juga menjawab, insya Allah di bulan Mei ini. Pada teman-temannya dia juga mengatakan seperti itu. Ternyata di bulan Mei, yg terjadi adalah kepergiannya (terdiam). Namun apa rahasia di balik itu, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Mengingat kepergian Meila, saya juga teringat bagaimana ayahnya berpulan enam tahun lalu. Sekitar 40 hari sebelum wafat, ayahnya mengatakan pada saya, bahwa dia berharap akan wafat saat sedang shalat atau saat membaca Al-Quran. Dia juga mengatakan ingin dimakamkan di mana. Dan juga berpesan berbagai hal pada saya selaku istrinya. Namun saat itu saya tidak menduga bahwa sekitar 40 hari setelah itu dia ternyata berpulang.

Ramadhan terakhir dalam hidupnya, ayah Meila mengabdi sebulan penuh di mushala. Ia tadarus Al-Quran hingga berkali-kali khatam. Di hari Jumat sehari sebelum wafat, bersama saya dia menjenguk anak kami yg di pesantren. Esoknya, saat shalat shubuh di mushala, dia berujar pada temannya untuk menggantikannya menjadi imam. Temannya menolak dan mengatakan merasa malu menjadi imam (karena ada orang lain yg dirasa lebih mampu). Namun suami memaksa dan mengatakan, kamu harus jadi imam, supaya ada yg menggantikan kalau saya tidak ada. Akhirnya temannya itu mau menjadi imam. Saat rakaat pertama shalat shubuh itu, ketika pada ayat waladhdhallin, dan makmum mengucap amin, suami saya jatuh tersungkur. Ia meninggal saat itu juga. Tanpa sakit apa pun sebelumnya. Saya kaget sekali. Dan sangat sedih. Namun saya menyimpan keharuan dan harapan, semoga dg kepergian seperti itu, insya Allah dia mencapai khusnul khatimah.

Harapan yg sama kini saya doakan untuk Meila anak saya (terdiam). Saya juga berharap, nasehat-nasehatnya dapat saya amalkan. Ketika saya merasa beban hidup demikian berat, ketika merasa berbuat baik namun mendapat tanggapan yg kurang baik dari orang lain, Meila bisanya bilang pada saya bahwa Allah memberikan cobaan untuk orang yg kuat. Kalau orang yg tidak kuat, tidak akan diberikan cobaan seperti itu. Dia bilang, “insya Allah Mama kuat.” Kata-kata itu selalu terngiang di hati saya. Membuat saya tergugah bahwa Allah memberikan cobaan kepada saya karena insya Allah saya kuat. Meski kesedihan datang, namun selalu timbul kekuatan di balik itu, kalau semuanya dikembalikan kepada Allah.

Sekitar satu minggu sebelum kepergian Meila, entah mengapa saya merasa sedih dan gelisah. Saat itu Meila menanyakan, “Mama ada apa, kok Mama sedih. Mama yg sabar ya Ma, orang sabar disayang Allah... Nanti Mama akan merasakan manisnya kesabaran...”

Mudah-mudahan Allah mengaruniakan jannah untuk Meila. Dan dia dapat menjadi contoh, untuk membawa keluarga mengikuti jejaknya. Bahwa Meila yg masih muda mau berusaha seperti itu, mengapa kita tidak.