Tuesday, December 30, 2008

NOTHING IMPOSSIBLE

dari Bang Jay d'terrorist nich.. bisa menginspirasi buat kita semua..

* * *

Ia memiliki pasokan makanan yang cukup untuk lima hari, sebuah Alkitab dan The Pilgrim’s Progress (dua hartanya), sebuah kapak kecil untuk melindungi diri dan selembar selimut lusuh. Dengan barang-barang ini, Legson Kayira bersemangat memulai perjalanan hidupnya. Ia akan berjalan dari desanya di Nyasaland, ke utara menyeberangi padang gurun Afrika Timur ke Cairo, di mana ia akan menumpang sebuah kapal ke Amerika untuk mendapatkan sebuah pendidikan di perguruan tinggi. Ia sama sekali tidak tahu, di mana Amerika!

Ketika itu adalah bulan Oktober 1958. Legson berusia enam belas atau tujuh belas tahun. Orang tuanya tidak berpendidikan dan tidak tahu persis di mana atau seberapa jauhkah Amerika dari tempat mereka tinggal. Dengan enggan mereka memberikan restunya atas perjalanan Legson.

Bagi legson, itu merupakan suatu perjalanan yang berasal dari suatu impian, tidak peduli betapa menyesatkan, yang menguatkan tekadnya untuk mendapatkan suatu pendidikan. Ia ingin seperti pahlawannya, Abraham Lincoln, yang telah bangkit dari kemiskinan untuk berjuang tanpa kenal lelah untuk membantu membebaskan para budak lalu menjadi presiden Amerika. Ia ingin seperti Booker T Washington, yang telah melepaskan diri dari belenggu perbudakan untuk menjadi seorang tokoh reformasi dan pendidikan hebat di Amerika, memberikan harapan dan martabat kepada dirinya sendiri dan kepada rasnya.

Seperti model-model peran yang hebat ini, Legson ingin melayani umat manusia, untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda di dunia. Untuk meralisasikan sasarannya, ia memerlukan suatu pendidikan kelas satu. Ia tahu bahwa tempat terbaik untuk mendapatkannya adalah Amerika.

Lupa bahwa Legson tidak mempunyai uang atas namanya sendiri atau suatu cara untuk membayar ongkos perjalanannya.

Lupa bahwa ia tidak tahu perguruan tinggi apa yang akan ia masuki atau apakah ia akan diterima.

Lupa bahwa Cairo berjarak 3.000 mil dari Amerika dan di antaranya ada ratusan suku yang berbicara lebih dari lima puluh bahasa yang berbeda, yang tidak satupun penduduknya dikenal Legson.

Lupakan semua itu. Legson melupakannya. Ia harus melupakannya. Ia mengesampingkan segala sesuatu dari benaknya kecuali impian untuk sampai ke negeri di mana ia bisa membentuk nasibnya sendiri. Amerika adalah negeri impiannya. Dengan kemampuannya, ia mulai melakukan sesuatu.

Ia tidak selalu memiliki tekad yang kuat. Sebagai seorang pemuda, ia kadang-kadang menggunakan kemiskinannya sebagai suatu alasan untuk tidak berbuat yang terbaik di sekolah atau untuk tidak menyelesaikan sesuatu. Saya hanyalah seorang anak miskin, katanya kepada dirinya sendiri. Apa yang bisa saya lakukan ?

Seperti banyak teman-temannya di desa, mudah bagi Legson untuk meyakini bahwa belajar merupakan suatu pemborosan waktu bagi anak miskin dari kota Karongo di Nyasaland. Lalu dalam buku-buku yang diberikan oleh para misionaris, ia menemukan Abraham lincoln dan Booker T Washington. Kisah-kisah mereka memberikan inspirasi kepadanya untuk memimpikan hal-hal yang lebih besar untuk hidupnya, dan ia menyadari bahwa pendidikan merupakan langkah pertamanya. Jadi ia menciptakan gagasan untuk perjalanannya ke Cairo.

Setelah lima hari penuh menyusuri wilayah Afrika yang sulit, Legson hanya bergerak sejauh 25 mil. Ia sudah kehabisan makanan. Airnya habis, dan ia tidak mempunyai uang. Menyelesaikan perjalanan yang masih 2.975 mil lagi tampak merupakan hal yang mustahil. Namun jika ia kembali berarti ia menyerah, menyerahkan dirinya kepada suatu kehidupan yang penuh kemiskinan. Seumur hidup.

Saya tidak akan berhenti sampai menginjak Amerika, janjinya kepada dirinya sendiri. Atau saya mati dalam usaha saya. Ia terus melangkah maju.

Kadang-kadang ia berjalan bersama-sama orang asing. Kebanyakan ia berjalan sendirian. Ia memasuki setiap desa baru dengan hati-hati, tidak mengetahui apakah penduduk setempat bersifat bermusuhan atau ramah. Kadang-kadang ia menemukan pekerjaan dan tempat berlindung. Seringkali ia harus tidur beratapkan langit. Ia mencari buah-buahan liar dan berry tanaman-tanaman lain yang bisa dimakan. Ia menjadi kurus dan lemah.

Suatu hari ia terserang demam dan ia merasa kondisinya sangat lemah. Orang-orang asing yang baik hati mengobatinya dengan obat-obatan herbal dan menawarinya tempat untuk beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Merasa khawatir dan lemah semangat, Legson mempertimbangkan untuk pulang. Mungkin lebih baik jika ia pulang, demikian pertimbangannya daripada melanjutkan perjalanan yang tampak konyol ini dan mempertaruhkan kehidupannya.

Namun kemudian Legson kembali membuka kedua bukunya, membaca kata-kata yang telah sangat dikenalnya, yang memperbarui semangatnya. Ia meneruskan perjalanannya. Pada tanggal 19 Januari 1960, lima belas bulan setelah ia memulai perjalanannya yang penuh bahaya, ia telah menyeberangi hampir seribu mil ke Kampala, ibukota Uganda. Sekarang badannya bertumbuh semakin kuat dan lebih bijaksana dalam cara-caranya mempertahankan hidup. Ia tinggal di Kampala selama enam bulan, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang aneh dan menghabiskan setiap waktu luangnya di perpustakaan untuk membaca dengan penuh gairah.

Di perpustakaan itu ia menemukan sebuah direktori bergambar yang memuat daftar perguruan-perguruan tinggi Amerika. Secara khusus sebuah gambar menarik perhatiannya. Gambar itu mengilustrasikan sebuah institusi yang megah namun tampak ramah, berdiri di bawah langit biru, dihiasi air mancur dan halaman rumput, dan dikelilingi oleh pegunungan yang megah, yang mengingatkan dia tentang puncak-puncak gunung yang luar biasa di kampung halamannya di Nyasaland.

Skagit Valley College di Mount Vernon, Washington, menjadi gambaran kongkret pertama dalam pencarian Legson yang tampak mustahil. Ia segera menulis ke Dekan sekolah tersebut menjelaskan situasinya dan meminta beasiswa. Takut ia mungkin tidak diterima di Skagit, Legson memutuskan untuk menulis ke sebanyak mungkin perguruan tinggi sesuai dengan dana yang dimilikinya.

Ternyata itu sebenarnya tidak perlu dilakukannya. Dekan di Skagit begitu terkesan dengan tekad Legson sehingga ia tidak hanya menerima Legson, namun juga menawarkan suatu beasiswa dan pekerjaan sehingga ia bisa membayar biaya untuk tempat tinggal.

Satu lagi impian Legson menjadi kenyataan, namun masih banyak rintangan yang menghalangi jalannya. Legson memerlukan sebuah paspor dan visa, namun untuk mendapatkan paspor, ia harus menginformasikan tanggal lahir resminya kepada pemerintah. Lebih buruk lagi, untuk mendapatkan visa ia memerlukan tiket pulang pergi ke Amerika Serikat. Sekali lagi ia mengambil pulpen dan kertas, dan menulis surat kepada para misionaris yang telah mengajarnya sejak kanak-kanak. Mereka membantu pengurusan paspor melalui saluran-saluran kepemerintahan. Akan tetapi Legson tetap belum mempunyai biaya untuk membeli tiket yang dibutuhkan untuk memohon visa.

Tidak berkecil hati, Legson melanjutkan perjalanannya ke Cairo dengan meyakini bahwa entah bagaimana ia akan mendapatkan uang yang diperlukan. Ia begitu percaya diri sehingga ia menggunakan tabungan terakhirnya untuk membeli sepasang sepatu sehingga ia tidak harus berjalan melalui pintu Skagit Valley College dengan bertelanjang kaki.

Bulan demi bulan berlalu, dan berita tentang perjalanannya yang penuh keberanian mulai tersebar. Ada waktu ia sampai di Khartoum, kehabisan uang dan merasa lelah, legenda Legson Kayira telah menyebar melalui lautan antara benua Afrika dan Mount Vernon, Washington. Para mahasiswa di Skagit Valley College, dengan bantuan dari masyarakat lokal, mengirimkan $ 650 untuk menutup ongkos tiket Legson ke Amerika.

Ketika ia mengetahui kemurahan hati mereka, Legson jatuh berlutut dalam kelelahan, sukacita dan rasa syukur. Pada bulan Desember 1960, lebih dari dua tahun setelah perjalanannya dimulai, Legson tiba di Skagit Valley College. Membawa dua bukunya yang berharga, ia dengan bangga melewati pintu masuk yang menjulang tinggi di institusi tersebut.

Namun Legson tidak berhenti ketika ia lulus. Meneruskan perjalanan akademisnya, ia menjadi profesor ilmu politik di Cambridge University di Inggris, dan menjadi penulis yang dihormati di mana-mana.

Seperti para pahlawannya, Abraham Lincoln dan Booker T Washington, Legson Kayira bangkit dari kondisi awalnya yang sangat sederhana dan menciptakan nasibnya sendiri. Ia melakukan suatu yang berbeda di dunia ini dan menjadi sebuah mercusuar yang sinarnya tetap bercahaya sebagai panduan bagi orang lain yang mengikutinya.

Legson Kayira kembali menjadi saksi hidup, bahwa Tuhan hanya bisa mengangguk atas keinginan besar dari seseorang yang berani membayar mahal harga kesuksesannya. Nothing Impossible.

(Unstoppable, Cynthia Kersey)

*

diambil dari sini

Thursday, July 31, 2008

Rindu II

Ini tulisan dr temenku. Temen baik. Dia tulis, lalu dikirim via imel ke aku.
Dia tuh temen sma, temen kuliah juga, .. lalu barusan juga jadi temen satu kantor. Tapi dia dah pindah ke pulau sumatera. Smoga dia sukses deh. Dunia akhirat. Amin.
[sdikit ada editan dariku]

* * *

Rindu ini tak tertahankan lagi
Di sela gemuruh aktivitas dunia
Mendadak ku teringat suatu tempat
Semua sholat menghadapnya.....

Roda ini begitu kencang berputar
Dibebani dengan target duniawi semata
Aku harus bisa.....
Namun tempat nan suci itu terus melintas dalam benakku....


Thursday, July 10, 2008

Rindu I

Rajab telah berkunjung
sebentar lagi Sya'ban menyusul
dan di belakangnya sudah menanti Ramadhan,
tamu agung yg akan menghampiri kita juga

Semoga kita bisa bertemu dengannya
berakrab-akrab dengannya
mengisi waktu-waktunya
belajar & mengambil hikmah padanya

Kebayang, kan..
gimana indahnya suasana ramadhan
orang-orang baik makin bertambah di bulan itu
pula, kebaikan menemukan masa yg kondusif
dan, orang mudah tergerak & berlomba untuk berbuat baik

Ah, andainya smua bulan di satu tahun adalah Ramadhan..
sebagaimana para sahabat punya harap & berkeinginan
:-?


* * *

"Abi / Ummi, kapan ya Ramadhan lagi..
Abang seneng lho, kalo udah Ramadhan"
ungkapan Abang pada Abi & Umminya, suatu hari.
Rasa rindu yg tidak/belum bisa digambarkan dengan kata-katannya yg lebih detil, tidak juga dengan / melalui gambar-gambarnya yg dia memang suka melakukan aktivitas itu.

insya Allah kita sedang menanti kehadirannya
semoga Ramadhan yg kurang dari dua bulan lagi ini adalah Ramadhan yg lebih baik lagi bagi kita dibandingkan yg sebelumnya


Thursday, July 3, 2008

m a n u s i a

Namanya manusia
Keinginan banyak tiada berujung
Sesuai dengan jumlah angka yg ada
Satu didapat, pengin yg berikutnya
Kadang, belum dicapai, sudah berkeinginan yg lainnya lagi

Namanya manusia
Tidak akan lepas dari persoalan
Besar-kecil, rumit-sederhana, tetap saja sama sebagai soal
Setiap soal ada jawabnya
Yakin
Dan manusia tidak sendiri untuk itu

Namanya manusia
Sukses gagal adalah temannya
Bergantian mengiringinya
Mestinya dia akrab dg keduanya, tidak akan (selalu) kaget dg kehadirannya

Namanya manusia
Sekuat apa pun energinya
Sebesar apa pun keinginannya
Sepandai apa pun ilmunya
Sekaya apa pun hartanya
Sekuat apa pun pasukannya
Ia tetaplah manusia
Penuh dg keterbatasan

Namanya manusia
Walau begitu…
Tetap saja, manusia itu selalu unik

Ngga ada habisnya ngomongin tentang dia

Beruntunglah bagi manusia yg bisa mengambil pelajaran & hikmah
Senantiasa bersyukur & bersabar

*samarinda, 3 juli 2008*

Tuesday, July 1, 2008

Belajar dari seorang Meila

Tulisan ini aku ketikkan kembali dari majalah tarbawi edisi 181, 19 juni 08 lalu (dg sedikit 'editing'). Tentang seorang manusia, mahasiswi, yg dalam usianya yg muda bisa banyak berbuat kebaikan, sampai akhir hidupnya. Semoga bisa diambil hikmahnya. Walo tulisannya panjang, semoga bisa dinikmati dg nyaman.


Bagi yg sudah membacanya, smoga bisa menambah ingatan & kesadarannya, juga smoga bisa memberi tau temen yg lainnya akan adanya kisah ini, munkin berguna buat mereka.
Bagi yg belum pernah membacanya, yaa.. silakan membaca ^_^
skalian kasi info, kalo majalah tarbawi ini tmasuk baguslah untuk dibaca, hehe.. Promosi.. :D
Tapi bener qo.. Dia tuh, penuh inspirasi..sesuai slogannya.
Buat temen2 yg ada di Balikpapan, kalo tertarik utk berlangganan..bisa hubungi aku ato melalui toko ini.
:D
Selamat mengambil hikmah..


MENGENANG MEILA
sosok mahasiswi pengabdi dan pejuang

Rofiqo Meila Sari, anak saya yg ketiga dari lima bersaudara, lahir tgl 18 Mei 1987. Pada anak-anak saya itu, saya menyimpan harapan yg sama, yakni mereka mencapai pemahaman agama yg baik dan meningkat terus. Pada anak-anak, saya lebih banyak mencontohkan untuk dekat pada agama melalui perbuatan sehari-hari. Misalnya, dengan melihat orang tuanya shalat malam, shalat dhuha, dan puasa sunah, anak-anak pun akan ingin melakukannya, setelah mengetahui kebaikan di balik ibadah-ibadah itu.

Tapi ternyata yg paling kelihatan amat dekat dg agama adalah Meila, dialah yg rajin dan konsisten melakukan shalat malam, dhuha, puasa Nabi Daud, puasa sunah Senin Kamis, dan lainnya. Di bulan Ramadhan, terutama Ramadhan lalu, dia jarang berada di rumah karena i'tikaf di masjid. Saat saya tanyakan mengapa sampai demikian giat beri'tikaf, dia menjawab bahwa dia ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya kesempatan beribadah di bulan yg penuh keberkahan itu, apalagi kesempatan untuk beribadah di bulan itu akan datang lagi atau tidak, kita kan tidak tahu.

Banyak kebaikan dan keunikan Meila yg saya rasakan. Dg cara yg lembut, sambil meminta maaf, dia dapat berdikusi berbagai hal mendalam, bahkan menasehati saya. Dan saya memperhatikan pendapat-pendapatnya, karena saya melihat kepribadian yg cukup matang dan bertanggung jawab. Terhadap saudara-saudaranya, Meila juga perhatian. Bagi kami, Meila adalah pelita keluarga (terdiam).

Saya bahagia dan hati saya tenang, karena meski dia masih muda, namun saya bisa mempercayainya. Hingga saya lebih banyak berpesan dan mewanti-wanti pada adiknya. Kalau adiknya meminta izin mendatangi suatu tempat, saya banyak berpesan, jangan pulang terlambat, jangan main dulu kalau acara sudah selesai. Kalau dg Meila, saya tidak melakukan itu. Saya mempercayainya dan yakin dg apa-apa yg dia lakukan. Saya mengetahui kepribadian dan akhlaknya sehari-hari.

Ketika membaca buku harian Meila setelah kepergiannya, saya terenyuh. Di buku itu dia mempertanyakan “perbedaan” perlakuan itu. Dia menulis mengapa kalau adiknya pergi selalu dikomentari, sedangkan dia tidak. Rupanya dia mempunyai perasaan lain yg dia tuangkan dalam buku itu. Saya sedih saat membacanya. Saya menangis. Ya Allah, tidak ada maksud seperti itu. Saya berdoa, “Meila, maafkan Mama kalau kamu mempunyai perasaan seperti itu. Tapi itu (Mama lakukan) karena Mama sangat percaya pada Meila.”

Meila itu remaja yg gemar sekali dg kegiatan dakwah. Mushala di samping rumah kami (mushala yg didirikan oleh keluarga) dia juga yg meramaikan. Tiap malam Jumat dia mengajak anak-anak muda untuk pengajian. Bersama teman-temannya, dia mengadakan kursus cara memandikan jenazah, pengobatan gratis dan lainnya.

Dua tahun lalu, di mushala itu dia juga membuka TPA untuk anak balita. Meski di kampusnya (kuliah di Fak. Psikologi UIN Syarif Hidayatullah) dia sibuk ikut Lembaga Dakwah Kampus dan kerap mengadakan kegiatan, tetapi untuk TPA itu dia juga terjun total (TPA itu menampung 30an anak). Saya sempat khawatir dan bertanya apa tidak terlalu lelah. Tapi dia bilang bahwa anak-anak inilah nantinya yg jadi generasi penerus, dan karena mereka masih sangat muda, masih seperti kertas putih, justru merekalah yg sangat perlu diperhatikan.

Terhadap anak kecil, dia memang sayang sekali. Terhadap adiknya, keponakan, anak-anak tetangga, dia perhatian sekali. Terhadap adik-adik tirinya (Azizah menikah kembali th 2007, setelah suaminya wafat enam th lalu), dia sering menanyakan, sudah membuat PR belum, sudah belajar belum, dan lainnya. Kalau pulang kuliah atau pulang dari berbagai kegiatan lain, dia selalu menanyakan adik-adik tirinya. Pada adiknya yg sudah remaja, dia sering menasehati, termasuk menasehati untuk berjilbab. Ketika adiknya kemudian berjilbab, saya menanyakan sebabnya. Selain karena dorongan hati, juga karena ingin mencontoh kakaknya.

Kini adiknya dan seorang teman Meila yg meneruskan mengajar di TPA (tiap hari, sebelum memulai mengajar di TPA pasca kepergian Meila, adiknya mengajak murid-murid untuk berdoa bagi Meila). Memang, di pagi hari saat kepergiannya (Rabu 14 Mei 2008), sebelum berangkat Meila mengatakan kepada adik dan kakaknya di rumah, “Kalau Meila tidak pulang, tolong TPA diteruskan, jangan sampai berhenti ya..kegiatannya.” Saudaranya menduga, maksudnya akan menginap karena sedang sibuk menyiapkan suatu acara. Ternyata dia benar-benar tidak akan pulang (terdiam).

Kepergiannya

Saat Meila berangkat di hari terakhir itu, saya sudah lebih dulu pergi ke sekolah (Azizah mengajar agama di salah satu SD Negeri di Pondok Pinang). Sedangkan Meila biasanya berangkat setelah shalat dhuha dulu di rumah. Sebelum shubuh, salah seorang saudaranya melihat Meila makan sahur. Dugaan saya, hari itu dia sedang berpuasa Nabi Daud.

Kabar yg saya dengar, hari Rabu 14 Mei itu, dg diboncengkan motor oleh teman perempuannya, Meila membawa proposal untuk pencarian dana acara dakwah di kampus hingga ke kawasan Depok. Tapi saya juga mendengar kabar lain, bahwaw dia ke Depok untuk mengajukan lamaran menjadi asisten dosen di Universitas Indonesia. Pagi jam sepuluh itu, motor yg ditumpangi Meila terserempet mobil yg datang dari arah berlawanan. Akibatnya Meila terpental hingga masuk ke bawah mobil (terdiam). Ketika ditemukan, dia sudah meninggal di tempat (terdiam). Sedangkan temannya mengalami luka-luka, dan bersama jenazah Meila, segera dilarikan ke rumah sakit di Depok.

Saat mendengar kabar kecelakaan itu, saya tidak diberi tahu bahwa Meila sudah meninggal di tempat (terdiam). Ketika menuju rumah sakit, saya berujar kepada adik saya yg menyetir mobil, cepat, cepat, saya mau melihat anak saya (terdiam). Tiba di rumah sakit, saya melihat tubuh Meila ditutup kain semuanya, dari kepala sampai kakinya. Saya hanya bisa berdzikir, saya mengucapkan innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji'uun, saya mengingatkan diri saya, bahwa Allah lebih sayang pada anak saya. Saya sangat sayang pada Meila, tapi Allah lebih sayang padanya. Saya harus ikhlas (terdiam). Itulah yg menguatkan saya. Kalau tidak banyak mengingat Allah, entah apa yg jadinya (terdiam).

Saat membuka kain yg menutupi wajahnya, subhanallah, saya melihat matanya tertutup rapat dan wajahnya menghadap ke kanan. Ketika saya memperhatikan tubuhnya, subhanallah, tidak ada darah sama sekali. Jenazah itu bersih. Saya hampir tidak percaya melihatnya, tapi itulah yg terjadi. Ada luka di kakinya yg membuat tulangnya nampak, namun tetap tidak mengeluarkan darah. Polisi lalu lintas yg membawa jenazah Meila juga berujar, baru saat itulah ia menemukan jenazah korban kecelakaan lalu lintas yg tidak ada darah sama sekali di tubuhnya (terdiam).

Sewaktu membuka penutup jenazah, saya merasa ada wangi tertentu, namun saya tidak tahu itu wangi apa (Seorang teman Meila menuliskan dalam catatan kenangan tentang Meila. Menurutnya, di saat kecelakaan terjadi, dalam ruangan kelas tempat Meila biasa melakukan kegiatan, tercium wangi yg tidak dikenali oleh seorang pun di ruangan itu).

Kemudahan2 pengurusan jenazahnya

Banyak kemudahan dalam proses itu. Bahkan polisi yg bertugas saat kecelakaan terjadi, di luar dugaan, adalah tetangga yg memang berprofesi sebagai polisi. Ketika kecelakaan terjadi dan ia mencari tanda keterangan diri dalam tas Meila, ia kager saat membaca alamat Meila. Sehingga kabar pada keluarga pun lebih cepat sampai. Dan polisi itulah yg terus membantu kami, mulai dari pemulangan jenazah Meila dari rumah sakit hingga hal-hal lainnya.

Kemudahan juga terjadi ketika akan memakamkan almarhumah. Saat itu kami diberi tahu bahwa tanah pekuburan di daerah Gandaria adalah tanah yg keras, yg tidak mudah untuk digali. Tiga orang penggali kuburnya mengatakan, makam yg digali di sore hari itu diperkirakan baru akan selesai jam sebelas malam atau lebih karena kondisi tanahnya. Akhirnya kami memutuskan untuk memakamkan alamarhumah esok paginya saja. Namun jam tujuh malam tiba-tiba kami ditelepon. Kata pihak TPU, terjadi keanehan, karena tidak seperti biasanya tanah di sana terasa gembur saat digali. Jadi penggalian itu jam tujuh malam sudah selesai. Kami merasa itu suatu kemudahan yg Allah berikan.

Wasiat

Tanpa kami ketahui, pada tanggal 1 April 2008 Meila ternyata menuliskan wasiat di selembar kertas yg disimpan dalam dompetnya. Di malam hari setelah kecelakaan terjadi, barulah pamannya menemukan surat itu, ketika melihat satu per satu isi tas Meila. Dalam dompetnya, selain ditemukan foto almarhum nenek & ayahnya, juga ditemukan surat itu. Dalam surat wasiat itu tertulis,

“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Jakarta, 1 April 2008 / 24 Rabiul Awwal 1428 H. Saya yg bernama Rofiqo Meila Sari Ber-WASIAT.

  1. Saya ingin merenovasi kuburan Bapak Nurhasan, ayahanda tercintaku dg bunga dan rumput. Serta aku ingin buatkan kaligrafi yg kubuat sendiri.
  2. Meramaikan mushola dg kegiatan-kegiatan bermanfaat.
  3. Barang-barang Meila seperti buku-buku, baju, sepatu, tas, dll yg masih layak pakai untuk diberikan kepada sanak saudara yg membutuhkan (khususnya yg sudah yatim piatu dan fakir miskin), baru untuk orang lain.
  4. Organ-organ atau jasadiyah Meila yg masih/dapat digunakan untuk orang yg membutuhkan tetapi dia harus seorang hamba Allah yg beriman lagi taat.
  5. Kalau seandainya bisa, saya ingin dimakamkan di sebelah makam ayahandaku.
  6. Jika saya memiliki harata lebih, 50%-nya untuk pembangunan masjid, kegiatan-kegiatan dakwah, santunan yatim piatu atau lainnya yg dapat membawa kemaslahatan umat.
  7. Unuk saudara/saudariku tolong sayangi Mama dan saling sayang-menyayangi, komunikatif, watashau bilhaq watashau bishabr.
  8. Tolong kirimkan doa terbaikmu untukku yg telah dahulu.

Salam cinta

Rofiqo Meila Sari”

Membaca surat itu, kami terkesima. Subhanallah, dia tentu tidak mengetahui bahwa sebulan kemudian akan mengalami kejadian itu (terdiam). Namun atas kuasa Allah, dia terdorong untuk menuliskannya. Surat itu juga menunjukkan sifat Meila yg lain, bahwa dia seorang pemaaf. Karena menggunakan kata 'kalau seandainya bisa'. Nampak bahwa dia tidak ingin “memasakkan” keinginannya.

Kami berusaha untuk memenuhi apa yg dalam surat itu. Sebagian besar insya Allah dapat dipenuhi. Namun tidak semuanya dapat terpenuhi. Karena surat itu ditemukan di malam hari, sudah sekian jam dari peristiwa itu terjadi, maka keinginan untuk mendonorkan organ tubuh sudah tidak bisa dilakukan (terdiam). Seorang kerabat mengatakan bahwa organ mata masih dapat didonorkan meski telah berjam-jam kemudian. Namun, ternyata kami kesulitan untuk memenuhi syarat 'harus seorang yg beriman lagi taat'. Kami khawatir syarat itu tidak terpenuhi, maka kami akhirnya memutuskan tidak melakukan pula hal itu.

Banyak kebaikan padanya

Saya terharu sekali karena dia berpesan pada adik dan kakaknya untuk menyayangi saya. Memang sehari-harinya dia sangat sayang pada saya. Segala sesuatunya untuk ibunya (menangis). Ibaratnya tidak apa-apa dia susah, asalkan ibunya bahagia (menangis). Dia kelihatan ingin sekali berbakti sama ibunya (menangis). Sampai mengajar privat di beberapa tempat, dan seluruh pendapatannya diberikan pada saya. Kalau saya menolak dan mengatakan uang itu dipakai saja untuk ongkosnya sehari-hari, dia tidak mau. Dia bilang ingin memberikan uang itu pada saya. Karena tidak tega untuk menolaknya, maka saya terima. Dan tiap hari tetap saya berikan uang untuk transpornya. Begitu inginnya dia memberikan uang, meski dia sendiri tidak punya uang untuk trasport.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, di malam Minggu 10 Mei 2008, Meila bilang pada saya, “Ma, maafin Meila ya, Meila pengin ngomong... Bulan depan Mama tidak perlu lagi memberikan Meila uang jajan. Tapi Meila juga tidak bisa memberikan uang sama Mama. Tapi rejeki insya Allah akan berkah Ma.” Setelah itu dia mencium tangan saya. Saat itu saya menduga dia sudah ada pemasukan tambahan lainnya, dan sudah dapat memenuhi kebutuhannnya sehari-hari. Saya menangis terharu, karena anak saya mempunyai pemikiran ingin meringankan orang tuanya. Saya berpikir, mungkin karena adiknya yg di pesantren akan masuk Madrasah Aliyah dan perlu biaya tambahan, maka dia berusaha mencari tambahan pemasukan, Saya berkata bahwa saya akan mendoakannya (terdiam). Dia menjawab, “Iya Ma, doakan Meila ya...” Setelah itu dia kembali minta maaf (terdiam). Itulah kali terakhir saya berbicara lama dengannya.

Sebagai orang tua, saya merasa kepatuhan, perhatian dan rasa sayang Meila pada saya sangat istimewa. Kalau saya lelah, Meila langsung mengambilkan minum dan memijat kaki saya. Kalau saya belum makan, dia bahkan menawarkan untuk menyuapi saya makan (terdiam). Dia terus membujuk sampai saya mau makan, karena kalau sudah lelah, saya kadang terlupa untuk makan. Karena tidak ingin dia kecewa, kadang saya mau disuapi, dan setelah itu giliran saya yg menyuapi dia makan (tertawa).

Meila juga senang sekali mengerjakan pekerjaan di rumah. Memasak, membersihkan rumah, merapikan taman, sampai membersihkan selokan (terdiam). Beberapa hari sebelum kepergiannya, dia masih membersihkan selokan (terdiam). Meski capek sepulang kuliah, tapi kalau akan mencuci baju, dia selalu mencucikan baju-baju lainnya yg ada di ember. Meski sebenarnya adik dan kakaknya mencuci sendiri baju masing-masing, tapi kalau Meila akan mencuci, maka baju siapa pun akan dia cucikan. Kalau saya katakan jangan dicuci semua, dia cuma bilang, tidak apa-apa Ma, kan sekalian mencuci baju Meila.

Ternyata kebaikannya juga dirasakan oleh lingkungan. Sungguh saya tidak menduga, saat membawa jenazah Meila pulang, sejak di ujung jalan, orang-orang sudah penuh sesak (terdiam). Semua menangisi kepergian dia. Saya sangat terharu (terdiam). Di rumah, tamu-tamu yg bertakziah, teman-teman kuliahnya, teman-teman sekolah, teman sesama penggiat dakwah, guru-gurunya, berdatangan terus, hingga rumah dan jalan penuh sesak. Kata kerabat saya, yg datang hingga ribuan (terdiam). Guru-gurunya juga meminta dg sangat untuk ikut memandikan jenazah. Saat itulah saya mengetahui, betapa banyak yg menyayangi dia (terdiam, suaranya bergetar).

Ternyata bukan di rumah saja Meila bersikap sangat baik pada saya dan keluarga, dan bersemangat kalau untuk persoalan berdakwah di lingkungan, tapi juga di kampus dan tempat-tempat lain. Selain mengajar privat ilmu alam, dia juga memberikan les privat agama. Seorang dosennya bercerita pada saya, sehari sebelum kecelakaan itu, Meila mengajak teman-temannya berkumpul dan menasehati mereka. Saya ingat saya pernah menanyakan mengapa ia aktif sekali di LDK. Saya khawatir ia terlalu lelah dan jatuh sakit. Namun Meila menjawab bahwa di kampusnya, meski berpredikat universitas Islam, namun suasananya tidak banyak berbeda dg kampus lainnya dalam hal keagamaan, hingga dakwah di kampus sangat diperlukan. Dan kalau tidak mengajak berdakwah, bagaimana nanti tanggung jawab di akhirat?

Awal komitmen

Beberapa hari setelah kepergiannya, saya menemukan buku hariannya. Di dalamnya saya membaca janji yg ia buat tiga tahun lalu. Di buku itu tertulis, “Bismillahirrahmanirrahim. 1.Mengajak untuk mengingat Allah swt. 2.Mengajak untuk mengingat dosa-dosa. 3.Mengajak untuk menyayangi orang tua. 4.Mensyukuri nikmat-nikmat Allah. 5.Taubat. Dear diary, tahu nggak ini adalah salah satu konsep yg aku buat pada malam Minggu kemarin, 30 April 2005 untuk muhasabah. Uh..uh..bagaimana ya..aku juga sebenarnya takut karena aku sendiri aja takut nggak bisa menjalankan apa yg aku sudah katakan. Tapi kita tidak boleh menghakimi diri kita “tidak bisa” karena pada dasarnya manusia itu bisa melakukan apa saja. Mudah-mudahan aku bisa menjalankan sunah-sunah Rasulullah di dalam kehidupanku sehari-hari. Amien ya..Rabbal alamin.. Maka dari itu aku bernama Rofiqo Meila Sari, asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah, aku berjanji: 1.Taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. 2.Taat pada orang tua dan guru. 3.Rajin belajar dan giat beramal. 4.Cinta alam dan kasih sayang kepada manusia. 5.Akan selalu menjalankan janji ini. Amien ya Rabbul alamin. Mudah-mudahan Meila bisa menggapai cita-cita Meila, dan dapat membahagiakan orang-orang di sekitarku. Allahu akbar. Jakarta, 2 Mei 2005.”

Sepertinya, memang di sekitar waktu itulah terasa Meila menjadi semakin baik. Kemungkinan besar dia merasa harus melakukan apa yg dia tekadkan. Dalam akhlak sehari-harinya hal itu kemudian sangat nampak. Taqarubnya pada Allah juga sangat meningkat. Kalau sebelumnya dia beribadah belum serajin itu, saya merasa di sekitar waktu itulah, dia melakukan perubahan yg mendalam (terdiam).

Di buku harian itu dia juga menuliskan bahwa dia tidak mau berpacaran. Dia inginnya ta'aruf yg dibenarkan agama. Namun sejak sekitar bulan April, Meila beberapa kali mengatakan pada tantenya bahwa ia ingin menikah di bulan Mei. Pada murid-muridnya yg sering menanyakan kapan ia menikah, Meila juga menjawab, insya Allah di bulan Mei ini. Pada teman-temannya dia juga mengatakan seperti itu. Ternyata di bulan Mei, yg terjadi adalah kepergiannya (terdiam). Namun apa rahasia di balik itu, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Mengingat kepergian Meila, saya juga teringat bagaimana ayahnya berpulan enam tahun lalu. Sekitar 40 hari sebelum wafat, ayahnya mengatakan pada saya, bahwa dia berharap akan wafat saat sedang shalat atau saat membaca Al-Quran. Dia juga mengatakan ingin dimakamkan di mana. Dan juga berpesan berbagai hal pada saya selaku istrinya. Namun saat itu saya tidak menduga bahwa sekitar 40 hari setelah itu dia ternyata berpulang.

Ramadhan terakhir dalam hidupnya, ayah Meila mengabdi sebulan penuh di mushala. Ia tadarus Al-Quran hingga berkali-kali khatam. Di hari Jumat sehari sebelum wafat, bersama saya dia menjenguk anak kami yg di pesantren. Esoknya, saat shalat shubuh di mushala, dia berujar pada temannya untuk menggantikannya menjadi imam. Temannya menolak dan mengatakan merasa malu menjadi imam (karena ada orang lain yg dirasa lebih mampu). Namun suami memaksa dan mengatakan, kamu harus jadi imam, supaya ada yg menggantikan kalau saya tidak ada. Akhirnya temannya itu mau menjadi imam. Saat rakaat pertama shalat shubuh itu, ketika pada ayat waladhdhallin, dan makmum mengucap amin, suami saya jatuh tersungkur. Ia meninggal saat itu juga. Tanpa sakit apa pun sebelumnya. Saya kaget sekali. Dan sangat sedih. Namun saya menyimpan keharuan dan harapan, semoga dg kepergian seperti itu, insya Allah dia mencapai khusnul khatimah.

Harapan yg sama kini saya doakan untuk Meila anak saya (terdiam). Saya juga berharap, nasehat-nasehatnya dapat saya amalkan. Ketika saya merasa beban hidup demikian berat, ketika merasa berbuat baik namun mendapat tanggapan yg kurang baik dari orang lain, Meila bisanya bilang pada saya bahwa Allah memberikan cobaan untuk orang yg kuat. Kalau orang yg tidak kuat, tidak akan diberikan cobaan seperti itu. Dia bilang, “insya Allah Mama kuat.” Kata-kata itu selalu terngiang di hati saya. Membuat saya tergugah bahwa Allah memberikan cobaan kepada saya karena insya Allah saya kuat. Meski kesedihan datang, namun selalu timbul kekuatan di balik itu, kalau semuanya dikembalikan kepada Allah.

Sekitar satu minggu sebelum kepergian Meila, entah mengapa saya merasa sedih dan gelisah. Saat itu Meila menanyakan, “Mama ada apa, kok Mama sedih. Mama yg sabar ya Ma, orang sabar disayang Allah... Nanti Mama akan merasakan manisnya kesabaran...”

Mudah-mudahan Allah mengaruniakan jannah untuk Meila. Dan dia dapat menjadi contoh, untuk membawa keluarga mengikuti jejaknya. Bahwa Meila yg masih muda mau berusaha seperti itu, mengapa kita tidak.

Saturday, January 12, 2008

Muharram

Kamis kemarin (10/1) ikut Pawai Muharram menyambut Tahun baru 1429 H yg diadakan oleh PKS Balikpapan. Pawai yg diikuti oleh hampir seribuan kader & pendukungnya itu berjalan meriah, lancar, & tertib. Beberapa tim Hadrah dari berbagai DPC PKS yg ada di wilayah Balikpapan ikut meramaikan acara pawai itu. Alhamdulillah, walau kakiku belum pulih 100% setelah kejadian yg lalu, aku tetap bisa ngikutin pawai dengan berjalan kaki dari halaman Bukopin BP sampai ke Masjid At-Taqwa Klandasan.

Saat berjalannya pawai, Selain bendera kecil PKS yg dibagi-bagikan kepada peserta pawai, ada juga selebaran/kartu yg disebar dalam pawai itu. Kartu yg berisi ucapan selamat Tahun Baru 1 Muharram 1429 H itu bergambar H. Hadi Mulyadi, Ketua DPW PKS Kaltim, yg sedang mengacungkan jempolnya dengan senyumnya yg khas mengembang. Di kover baliknya, kartu itu berisi tulisan singkat tentang Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan yg Dianjurkan untuk dilakukan pada bulan itu. Berikut tulisan yg ada di balik kartu tersebut:


Keutamaan Bulan Muharram

Beribadah pada bulan Muharram pahalanya akan dilipatgandakan,
dan (sebaliknya) bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula.


Amalan yg Dianjurkan:

1. Berpuasa sunnah di bulan Muharram

Ada 4 pilihan dalam melaksanakannya:

  • tanggal 9, 10, & 11 Muharram,
  • tanggal 9 & 10 Muharram,
  • tanggal 10, & 11 Muharram, atau
  • tanggal 9 Muharram saja

2. Memperbanyak bersedekah

3. Menyantuni anak yatim

4. Melakukan muhasabah (evaluasi diri).

Sengaja aku kutipkan tulisan yg ada di kartu itu, untuk mengingatkan kita semua akan bulan Muharram ini. Syukur-syukur kita bisa menghidupkan bulan ini dengan beberapa aktivitas yg dianjurkan di atas.